Gambar ilustrasi. (Foto internet)
banner 728x90

Majene, Katinting.com – Salah seorang warga atas nama Chaerudin yang tinggal di Dusun Balombong Utara, Desa Balombong, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene kaget dengan pemutusan aliran listrik rumahnya yang dilakukan oleh tim pemeriksa dari PLN Kabupaten Majene.

Chaeruddin menceritakan, kejadiannya sekira pukul 11.00 Wita, Jumat (4/5), saat ia masih tertidur dan dibangunkan sang istri. Ia pun mempertanyakan perihal pengambilan meteran tersebut karena ia merasa selama ini tidak pernah menunggak membayar.

Ia pun diberi tahukan pihak PLN, ada masalah dan harus diputus meterannya sebagai barang bukti di kantor. Ia diberitahukan juga, jika ingin mengambil meterannya (aliran listrik kembali disambung) maka ia harus membawa uang denda Rp 500 ribu ke kantor PLN.

Namun setelah Chaeruddin ke kantor PLN membawa uang Rp 500 ribu dengan maksud agar aliran listriknya kembali bisa dipakai malah disuruh membayar Rp. 1,383,000. “Sedangkan saya bawa uang Rp 500 ribu, tapi tidak mau terima, harus 700, padahal saya ada anak kecil yang berusia belum cukup satu tahun,” tutur Chaeruddin.

Sementara itu saat dihubungi via telpon, Kepala PLN mengakui pihaknya memang ada kegiatan pemeriksaan meteran pelanggan di dusun tersebut (Balombong) atas nama meteran Abd. Rahim. “Memang benar tim kami sempat memeriksa meteran tesebut, ternyata kWh meteran yang ada di rumah itu macet, sehingga pembayarannya selalu rekening minimum, dan itu biasanya karena benar-benar tidak ada pemakaian, sedangkan di rumah tersebut jelas-jelas ada pemakaian. Setelah dilihat meteran itu, ternyata kejadian tersebut sudah satu tahun berjalan. Olehnya itu, kami dari pihak PLN hitungkan beberapa kWh yang belum terbayarkan atau terukur selama satu tahun dan hasinya Rp 1,383,000,- dan itu bukan denda melainkan hitungan kWh meteran tersebut,” jelas Cahya, kepada jurnalis Katinting.com saat dikonfirmasi.

(Iqbal)

Bagikan
Deskripsi gambar...