banner 728x90

Malu Jadi Orang NU

4 comments 1691 views

Abdul Hakim Madda. (Ist.)

Oleh : Abdul Hakim Madda*

(Catatan Jelang Muswil NU Sulbar)

Cocoknya, ketua PWNU Sulbar bukan dari kalangan politisi. Hanya orang yang punya semangat membesarkan organisasi sekaligus memberdayakan masyarakat yang bisa mengubah gerakan NU Sulbar yang melempem ini menjadi kokoh kembali

Banyak yang berkepentingan dengan terlaksananya Perhelatan Musyawarah Wilayah Nahdlatul Ulama (Muswil NU) Sulawesi Barat. Dari pejabat, politisi, pengusaha hingga rakyat biasa warga NU yang tinggal di pelosok. Tak terkecuali teman saya, Wagimin warga Baras Pasangkayu namun asli Jember Jawa Timur.

Kemarin kami bertemu dan berdiskusi tentang NU, termasuk kesuksesan jalannya Muswil pertengahan Bulan Juli ini. Banyak keluh kesah yang ku dengar terutama harapannya yang begitu besar terhadap NU Sulbar.

“Cocoknya, ketua PWNU Sulbar bukan dari kalangan politisi”. Menurutnya, hanya orang yang punya semangat membesarkan organisasi sekaligus memberdayakan masyarakat yang bisa mengubah gerakan NU Sulbar yang melempem ini menjadi kokoh kembali.

Malah katanya, “Selama ini arah gerakan NU lebih berorientasi elitis. Mengerucut keatas, melayani kepentingan penguasa. Padahal seharusnya NU berorientasi populis, melebar ke bawah, untuk mensejahterahkan jamaah. Kalau tidak terjadi perubahan orientasi ini, NU Sulbar akan tetap seperti sekarang, hidup segan mati tak mau, sehingga kondisi warganya tetap serba tertinggal.”

“Menjadi orang NU saat ini bukan sebuah kebanggaan, justru sebaliknya. Sebab NU sudah tercitra sebagai organisasi tempat mencari jabatan dan jadi barang mainan untuk kepentingan politik praktis. Saya tidak ingin malu lagi sebagai warga NU. Tolong sampaikan perasaan saya kepada mereka yang akan bermuswil.” Katanya.

Wagimin adalah warga NU biasa. Kondisi ekononomi keluarganya pas-pasan. Kerjanya serabutan. Kadang jadi buruh tani di kebun sawit tetangganya. Atau mengajar mengaji panggilan buat keluarga karyawan perusahan sawit. Ia menjadi transmigran dan menetap di Baras mengikuti mertuanya.

Kelebihan Mas Gimin (begitu saya memanggilnya), hanya kesetiaannya pada NU yang luar biasa, ia sangat militan. Mungkin begitu produk kader NU dari Jawa. Namum penilaian dan harapannya terhadap NU, khususnya NU Sulbar tak bisa di abaikan.

Mas Gimin telah mengemukakan dan menggugat sesuatu yang sangat mendasar. Dan bisa di pastikan gugatan mas Gimin mewakili suara hati banyak warga NU Sulbar yang ingin bangga dan tidak lagi malu sebagai nahdliyin.

Menurut alur pikir Mas Gimin, kebanggan menjadi warga NU hanya mungkin terjadi jika organisasi massa ini meninggalkan orientasi elitis dan berbalik arah menjadi berorientasi ke jamaah. Seharusnya kepentingan dan kebutuhan nyata jamaah menjadi prioritas utama. Masalah sosial yang membelit jamaah seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pengembangan SDM menjadi agenda nomor satu.

“Bangga kita kalau ada Universitas NU di Sulbar, punya rumah sakit sendiri bahkan kalau bisa di setiap kabupaten, NU memiliki koperasi yang memudahkan orang seperti saya terbantu secara ekonomi. Laa.. iki sekretariatnya aja tidak jelas, Piye mas?”

Pastinya banyak warga nahdliyin sepakat dengan Mas Gimin termasuk saya. Tapi nyatanya ini jauh panggang dari api. Tak sesuai dengan kenyataan. Saya ingat Gus Dur pernah bilang kalau nanti ada pengurus NU yang tidak bisa memberi manfaat nyata pada jamaah dan hanya mementingkan diri sendiri, berhenti saja jadi pengurus atau jangan coba-coba mendekat ke NU.

Saya hanya tersenyum bila mengingat hal itu, soalnya apa yang disampaikan Gus Dur kembali terbukti.

“Tapi gimana caranya, mas. Soalnya ini sudan mentradisi di hampir seluruh lapisan NU, bukan Cuma di Sulbar?”

“Sampeyang benar begitulah kenyataannya. NU itu adalah organisasi massa. Pengikutnya banyak. Tapi payah. Makanya, kepentingan dan kesejahteraan jamaah harus menjadi prioritas utama dan menjadi kewajiban pemimpinnya. Pokoknya itu harga mati. Jangan di balik kesejahteraan pemimpinnya jadi prioritas utama. Dan itu di capai bila NU di pimpin oleh orang yang bisa menangis ketika melihat keterbelakangan jamaah”.

“Berarti kalau begitu NU tidak cocok di pimpin oleh politisi?” Tanya saya.

Mas gimin terdiam.

“Sebenarnya itu tidak benar juga, mas. politisi kalau dia negarawan tentu bisa terharu ketika melihat jutaan umat yang bodoh, sakit-sakitan dan miskin. Pertanyaannya masih adakah politisi seperti itu?”

“Jadi kalau begitu, siapa yang cocok mimpin NU Sulbar, Mas?”

“Ah, saya kan tidak punya hak pilih. Tapi saya punya kriteria, yakni siapa saja yang bisa membuat saya tidak lagi merasa malu menjadi orang NU. Dia adalah orang yang melihat kebodohan dan kemiskinan jamaah sebagai jalan Pengkhidmatannya kepada Allah SWT.” Jawab Mas Gimin menutup pembicaraan.

 

*Penulis adalah Warga NU menetap di Pasangkayu

banner 900x90
4 Respon
  1. Askar Darwis2 bulan ago

    “Setuju saya mas Gimin!, saatnya “Biduk” Jam;iyah NU mengarahkan kemudi mencapai menuju pulau Harapan yang diidam-idamkan Jama;ah seperti Mas Gimin ini,,,”

    Semoga tulisan Sahabat Hakim Madda (Ketua PC Ansor Pasangkayu) menjadi salah satu “starting Point/ Titik anjak” kita membangun NU yang lebih baik, dan tentu harapan terbesarnya ada pada hasil Konferwil III NU sulawesi Barat ini,,,,

  2. Elmansyah2 bulan ago

    Salam sama mas gimin kak…… dan selamat Konferwil NU sulbar..

  3. Arnol Topo Sujadi2 bulan ago

    Sama Pemikiran saya sama.Mas Gimin ini saya juga sangat malu dan kecewa melihat Elit2 NU terutama yang ada Di Pusat terlalu politis dan terkesan sebagai tameng penguasa karena legitimasi Jama,ah. Nahdyliin yang berjuta2 orang itu. Saya kirim.Alfatiha Uintuk Para elit NU di Pusat biar bisa Sadar. Dan kembali ke jalur umat.

  4. Pakkamba2 bulan ago

    Sehat selalu mas Gimin, anda mewakili banyak suara hati warga NU lainnya termasuk saya_

Tinggalkan Balasan