oleh

Malam Purnama Penuh Gairah

banner 728x90

Oleh : Fhatur Anjasmara (Part. 1)

 

Lamat –lamat terdengar dari balik kamarku, sebuah lagu genre pop Indonesia, di populerkan salah satu band ternama di era tahun 2000, kupingku menangkap secara utuh tiap larik dari lagu itu, meski sesekali diusik oleh teriakan penghuni kamar kos yang lain, karena, volume dari kamar sebelah asal sumber lagu itu di perdengarkan cukup di setel tinggi oleh pemiliknya, maka tentu, sekalipun ada gangguan suara yang lain, lagu itu tetap utuh terdengar lariknya di gendang telinga Saya.

Pada saat yang sama, Saya mencoba menengok, jam penunjuk waktu di Notebook tua milik Saya, waktu sudah menunjukan pukul 21.45, Saya pun terkesima, sebab baru saja Saya menyadari jika sejak siang hingga malam mulai menuju tengah malam, Saya belum sekalipun mengisi perut Saya, sehingga Saya segera beranjak dari atas kasur kapuk yang sudah mulai usang.

Saya menuju ke kamar kecil, untuk membasuh wajah, agar terlihat lebih segar, kemudian, mencoba mencari kunci di atas meja kerjaku, dengan bersiul siul kecil, Saya keluar dari kamar, menyusuri lorong kos kosan yang mulai sepi, karena penghuninya sudah mulai merapat dalam kamar masing masing.

“Hai.. Irvan, kemana, sepertinya sedang memburu sesuatu..?” sapa Nayarra, perempuan karyawan salah satu perbankan di kota Manakarra, yang juga secara tak sengaja memergoki Saya di parkiran, Dia juga adalah penghuni kos sama dengan Saya. Nayarra baru saja tiba, dan memasuki parkiran kos kosan, entah Dia dari mana.

Saya pun balik menyapanya…

“Ia nih Nay (sapaan kecilku pada perempuan ini), mau keluar dulu cari makan, sedari siang, Saya belum mengisi perut, jadinya lapar, mumpung belum tengah malam, mudah mudahan masih dapat di warung depan, mau ikut pesan juga ya ?” timpalku ke Nayarra.

Namun rupanya Nayarra, tertarik karenanya segera menuju ke arahku, dan meminta izin dirinya untuk Saya berikan tumpangan.

“Irvan mau cari makan ya, kebetulan, Saya juga belum makan malam, tadi di kantor lupa pesan makanan, kalau Irvan tak keberatan, bisa tidak, Saya numpang bareng, lagi malas nyetir sendiri, bisa kan ?” sungut Nay, sembari menanti izinnya dari Saya.

Karena memang lagi ingin punya teman untuk sama sama  mengisi perut, akhirnya Saya putuskan untuk mengiyakan permintaan Nayarra.

“Iya boleh, asal Nay, tidak malu bareng Saya makan di warung tepi jalan, karena selera Saya memang pinggiran, yuk naik” tawarku segera ke Nayarra, dan tanpa memberikan respon apapun pada pernyataan Saya terakhir, dia lansung masuk dan duduk manis di kursi depan tepat di samping Saya.

(Bersambung…)

Bagikan
banner 728x90

Komentar