oleh

Malam Purnama Penuh Gairah (Part.3)

banner 728x90

Oleh : Fhatur Anjasmara

 

Setelah mengantarkan Nayarra masuk kamarnya, lalu menutup pintunya, Saya pun ngacir ke kamar Saya, waktu sudah menunjukan pukul 01.30 jelang dinihari, selepas membersihkan kaki dan lengan, Saya pun menghamburkan diri ke tempat tidur, segera mengambil posisi selonjor di atas kasur tempat tidur Saya, sembari menyetel beberapa lagu, sebagai kebiasaan Saya untuk mengantar tidur.

Saya memilih beberapa lagu pilihan yang cukup enak di dengar kedalam draf box lagu pada pemutar musik yang ada dalam Notebook Saya, kemudian Tarik selimut, tak lupa meredupkan sedikit cahaya bolam lampu dalam kamar, untuk kebutuhan melelapkan mata dan mengistirahatkan tubuh ini hingga pagi.

Namun, hingga kurang lebih 30 menit Saya berupaya melelapkan mata ini, ternyata mata Saya tak kunjung terpejam, yang ada malah rasa kantuk Saya hilang, tiba tiba,  teringat sosok seseorang, yang kini entah rimbanya di mana, sebab sejak keegoan diri kami berdua, merampas kebahagian kami, diantara kami pun tidak ada yang punya niat untuk memulai saling menghubungi kembali, sampai pelan pelan waktu dan kesibukan kami, melebur perasaan diantara kami. Malam ini, sisa aroma tubuh dari Nayarra tentu memicu kembali kenanganku pada perempuan berdarah Ambon – Padang, “Alineee…” sebutku dalam hati, sosok yang pernah membersamaiku menghabiskan separuh hari hari kami, saat akhir pekan tiba.

Entah mengapa selepas menggendong Nayarra menuju kamarnya dari mobil Saya, justru aromanya yang tersisa menyulut roda memori Saya berputar kembali, mengenang manisnya kebersamaan yang pernah kami lewati bersama. Tentu, kerinduan Saya pada Aline yang secara tiba tiba ini, di luar dari kebiasaan Saya, sebab sudah nyaris lebih setahun waktu kami habiskan untuk saling melupakan, dan Saya bisa melewatinya, akan tetapi berbeda dengan kondisi Saya di dinihari yang sudah hampir menjelang subuh ini, semakin Saya mencoba memejamkan mata, bayang raut Aline semakin kuat hadir.

Teringat kembali saat sebulan menjelang Ramadan lima tahun lalu, Saya dan Aline di pertemukan di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Manakarra, jauh sebelum Gempa Bumi Magnitudo 6,2 memporak porandakan kota ini. Saat itu, Saya sedang menarik sebungkus Kopi Bubuk kesukaan Saya, sementera di sebelah Saya juga ada sosok perempuan dengan tubuh sintal, mengenakan kaos oblong agak ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan tonjolan buah dada cukup berisi.

Ketika Saya menaruh sebungkus Kopi kedalam keranjang belanja, tiba tiba perempuan itu nyeletuk,

“Apa sekalian tidak memasukan Susunya kak kedalam keranjang belanja…” timpalnya, sembari melempar senyum kepada Saya.

Entah setan apa yang ada di pikiran Saya saat itu, Saya pun lansung merespon candaan perempuan itu.

“Hem hem… kalau pengen di beliin susu, ya udah Saya masukin di kerajang Saya, entar jemputnya di depan selepas kasir menghitung..” basa basiku kepadanya, sembari mengambil dua kaleng Susu putih.

“Tidak usah kak, nanti Saya bayar sendiri… hanya bercanda kok tadi, habis kakak kelihatan garing belanja sendiri” cecarnya pada Saya, saat udah mulai akan maju ke kasir, namun Saya abai saja, tetap Saya membiarkan dua kaleng susu dalam keranjang belanjaan Saya.

Selepas dari kasir, dan membayar semua belanjaan Saya, segera Saya menghampiri perempuan tadi, yang masih berada dalam antrian kasir, dan manaruh sekantong berisi dua kaleng susu, meski sedikit menolak, tapi Saya lansung berlalu darinya, keluar dari tempat perbelanjaan menuju area parkir.

Saat Saya sedang merapikan hasil belanjaan Saya di bagasi belakang mobil, tetiba ada suara perempuan dari samping, menyapa Saya seiring dengan sapaannya yang lembut…

“Hai kak… terima kasih ya, atas belanjaan susunya dua kaleng, panggil Aline nama Saya” jelasnya kepada Saya, sembari berterima kasih dan memperkenalkan diri.

Tentu Saya pun tak mengabaikan kesempatan itu, dan segera merapat ke pintu mobilnya di mana ia segera akan masuk pintu mobilnya, karena Saya merapat, akhirnya, Ia membatalkan meneruskan aksinya masuk pintu mobil.

“Sama sama dek, kalau Saya, panggil saja Irvan, ini alamat dan nomor telepon Saya dek, kontak Saya ya, kalau ada waktu” terangku ke dia, dan Saya pun mohon pamit untuk kembali ke mobil, sembari mengizinkannya masuk mobilnya, dan pada saat yang sama, kami nyaris bersamaan meninggalkan area parkir pusat perbelanjaan sore itu, seiring lembayung mulai jatuh di ufuk barat.

(Ada apa di Part.4 nanti, tetap nantikan episodenya ya…..??)

Bagikan

Komentar