banner 728x90

Jangan Mendikotomi Perhelatan Demokrasi Sulbar Hanya SDK dan ABM

2261 views
banner 728x90
Anto Jangan Mendikotomi Perhelatan Demokrasi Sulbar Hanya SDK dan ABM

Gambar Ilustrasi

Katinting.com, Mamuju – Melihat perkembangan opini publik terkait perhelatan demokrasi yang akan dilangsungkan di Sulawesi Barat tahun 2017 akan datang, harus di akui bahwa dua sosok yang santer diperbincangkan sebagai kandidat terkuat yakni Suhardi Duka (SDK) dan Ali Baal Masdar (ABM).

Kedua figur ini masing-masing memantaskan diri sebagai Gubernur Sulbar. Tapi menurut hemat saya, kita tidak bisa mengabaikan figur lain yang ada di Sulbar yang tidak menutup kemungkinan juga memantaskan diri jadi Gubernur Sulbar, sebut Arianto Latief.

Lebih lanjut Arianto yang akrab disapa Anto ini menegaskan, ini adalah era demokrasi dan semestinya, kita tidak menciptakan mindset (pola pikir) bahwa seolah – olah hanya dua figur yg pantas menjadi Gubernur Sulbar.

“Saya sangat meyakini SDK dan ABM adalah dua sosok  politisi yang luar biasa dan sangat menyadari bahwa situasi politik itu sifatnya dinamis sehingga kedua figur ini melakukan konsolidasi politik yang sangat masif baik dilevel elit maupun di akar rumput, sebab secara konstitusi untuk menjadi calon kepala daerah selain usungan partai juga ada jalur independen,” jelas Anto yang menyebut dirinya kelompok Pro Demokrasi.

Soal hangatnya perbincangan di media terkait pemberitaan ABM siap menjadi kosong dua, sambung Anto, itu juga bukan tanpa dasar sebab Sulbar ini bukan cuma Polewali Mandar (Polman), dilain sisi kebanyakan kepala daerah secara politik kecenderungannya saat ini ke SDK yang mungkin dinilai salah satu rival terkuatnya.

Tapi dengan pernyataan ini saya memaknai bahwa ABM lagi memainkan strategi politiknya, beliau adalah salah satu politisi di Sulbar yang sudah teruji kehebatannya sehingga tidak mungkin memberikan pernyataan yang tidak melalui hitungan politik yang matang, imbuhnya.

“Hemat saya, ABM ingin melakukan cooling down untuk menghilangkan kesan bahwa  dia rival terberat SDK  sehingga wilayahnya tidak menjadi target prioritas untuk digarap, ataukah memancing figur lain untuk dijadikan partner tidak langsung untuk menggempur wilayah yang di klaim basis SDK, atau bisa jadi ingin membangun kegelisahan bagi calon pendamping SDK. Tapi itu hanya dugaan saya,” pungkas Anto. (Anhar Toribaras)

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.