oleh

Pemprov Sulbar Dorong Pengelolaan Kakao Secara Profesional

banner 728x90
Carlo Brix Tewu saat melihat buah tanaman Kakao

Mamuju, Katinting.com – Pj. Gubernur Sulbar Carlo B Tewu menyambangi perkebunan percontohan Kakao di Desa Tadui, Kalukku, Mamuju. Dalam kunjungan kerjanya tersebut mengatakan, sejak berdirinya Provinsi Sulbar, Kakao menjadi salah satu program unggulan di Sulbar. Dan tahun  2014 dan 2015 terjadi penurunan yang sangat signifikan, dan tahun 2017 Pemprov Sulbar mencoba meningkatkan produktifitas kakao Sulbar.

“Kita akan lakukan pengelolaan bibit tanaman kakao secara profesional dan melakukan suatu gerakan baru serta berkolaborasi kepada dinas terkait dalam membasmi hama demi peningkatan produksi kakao,” kata Carlo Brix Tewu. Jumat (17/02).

Selain itu, pengelolaan bibit kakao, juga akan dikembangkan kurang lebih 4.000 bibit yang tersebar di beberapa kabupaten. Salah satunya adalah di Tadui, Kabupaten Mamuju sebagai kebun percontohan kakao.

Untuk peningkatan produktifitas kakao, tantangan kedepan bagi Pemprov Sulbar dalam meningkatkan produksi kakao adalah bagaimana menghilangkan hama  yang menyebabkan penurunan produksi kakao Sulbar, khususnya hama perusak buah, pungkasnya.

Ia berharap kedepannya biji cokelat tersebut akan diserap oleh pasar kita sendiri, untuk diolah menjadi barang siap edar dan menjadi nilai tambah bagi pemasukan daerah.

Kabid Perlindungan dan Perbenihan Dinas Perkebunan Sulbar, M. Hasan mengatakan, bantuan yang disiapkan merupakan bahan percontohan bagi petani kakao, dengan harapan bantuan tersebut  bisa memberikan pemahaman melaui teknik perawatan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga ke pengolahan biji buah sehingga dapat di edukasi ke masyarakat disekitarnya.

“Itu dilakukan agar dapat membangkitkan kembali semangat para petani dan membuat petani tetap konsisten dikomoditi kakao. Selain itu,  komoditi kakao adalah hal yang sangat menjanjikan,” terangnya.

Perlu diketahui, produksi kakao saat ini mengalami penurunan. Itu disebabkan,  kebutuhan Sulbar tidak bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri, sehingga impor kakao dari luar harus dilakukan. (ADV/Humas)

Bagikan