Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)
banner 728x90

Matra, Katinting.com – Untung tak dapat diraih, malang pun tak bisa ditolak. Uang raib sedang gelar pun tak dicapai. Begitulah gambaran pepatah ini terhadap puluhan mahasiswa pasca sarjana (S2) di Mamuju Utara, Sulawesi Barat.

Mereka merasa ditipu setelah memberikan uang dengan jumlah bervariasi dari Rp 25 juta hingga Rp 36 juta kepada Tahir Danreng agar bisa masuk ke salah satu pengguruan tinggi tepatnya di Universitas Menara Siswa Bogor, Jawa Barat.

Semula mereka didaftarkan pada tahun 2010 silam dan melakukan pembayaran secara bertahap sesuai perkuliahan. Seiring waktu berjalan, pada tahun 2013 mereka mengkonfirmasi langsung perihal status kemahasiswaan mereka ke pihak Universitas Menara Siswa, namun mereka begitu kaget mendengarkan jawaban, pasalnya nama mereka sama sekali tidak terdaftar di kampus tersebut.

Dan akhirnya, 7 dari 20 orang yang diduga menjadi korban melaporkan masalah ini ke Polres Mamuju Utara tahun 2013 lalu. Namun berkas laporan dinyatakan lengkap (P21) oleh penyidik satuan Reskrim Polres Matra 3 tahun kemudian, tepatnya 14 April 2016 lalu dan dikirim ke Kejaksaan Negeri (kejari) Mamuju Utara.

Menurut Kasi Pidum Kejari Mamuju Utara Muh. Rum, Tahir Danreng disangkakan dengan tuduhan pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Sebelum kasus ini ditingkatkan ke proses penyidikan di kejaksaan, oleh penyidik kejari berkas tersebut, dikembalikan ulang ke penyidik Polres Matra pada 16 Juni 2016.

“Setelah P21 maka kewajiban penyidik menyerahkan tersangka beserta barang bukti. Namun jika tidak diserahkan selama 30 hari, maka akan diterbitkan P21a (susulan sebagai peringatan) sesuai SOP (standar operasional prosedur) di kejaksaan,” kata Rum.

Dia menambahkan, pihaknya sudah mencoret (menutup) kasus ini, pasalnya sudah lebih dari 30 hari setelah P21a, pihak kepolisian belum juga menyerahkan tersangka beserta barang bukti.

Para pelapor yang terdiri dari tujuh orang masing-masing Nasriaty, A. Idamyanti , Nurhana, Rahmatia, Kartini, Darmawati dan Nuralam mengeluh dan mengaku heran dengan proses hukum yang berjalan, sebab kata mereka sangat lamban dan tidak ada kepastiannya.

“Prosesnya lamban dan tidak ada kepastian (hukum), pasalnya pihak penyidik Polres Matra juga tidak ada penyampain terkait pengembalian berkas. Selain itu, terduga pelaku juga tidak ditahan,” keluh para pelapor sambil berharap kasus ini segera dituntaskan. (TIM)

 

Bagikan
Deskripsi gambar...