oleh

Mahasiswa Dilarang Kritis? Rektor Unasman Polman Gagal Paham

banner 728x90
Aksi aliansi FPPI, Komkar dan PMII Mamuju mengencam rektor Unsulbar

Polman, Katinting.com – Mahasiswa adalah agen perubahan dan kontrol sosial, dan sudah sepatutnya tidak hanya diam duduk dalam kampus atas sekian banyak persoalan dan kritis untuk mempertanyakannya.

Namun sangat disayangkan jika ada mahasiswa demikian, coba diredam dengan cara-cara yang tidak sepantasnya, seperti yang dilakukan rektor Unasman Sulbar DR. Hj. Chuduria Sahabuddin, M.Si.

Kritik mahasiswa Unasman, mempertanyakan adanya biaya kursus bahasa inggris yang dibebankan Rp. 200.000,- per mahasiswa. Mahasiswa meminta sebaiknya itu dijadikan mata kuliah. Sehingga mahasiswa meminta kejelasan dan melakukan pertemuan dengan pihak kampus. Rabu (29/12).

Pertanyaan mahasiswa, dijawab rektor Unasman dalam rekaman yang didapatkan Katinting.com, dengan mencap kereka yang kritis yang tergabung dalam organisasi Rakyat Kuasa (FPPI,red) sebagai sebagai ancaman dan seperti organisasi terlarang ISIS dan PKI.

Dalam rekaman jelas terdengar jika, sebagai ada satu organisasi yang menurutnya paling ditakutkan dan sebagai ancaman, yaitu rakyat kuasa dianggap dapat merusak mental, moral dan menjadi frontal, seperti Isis dan PKI. Bahkan jelas terdengar jika rektor tersebut meminta seluruh dosen mencari semua mahasiswa yang tergabung dalam organisasi tersebut.

Hal itu pun membuat geram kader FPPI dan mengecam pernyataan rektor Unasman Polman, “Tidak jelas dasarnya, tiba-tiba mencap sebagai organisasi terlarang seperti Isis dan PKI, jelas pernyataan itu adalah provokator yang hendak memancing kemarahan banyak pihak, padahal mahasiswa hanya mempertanyakan pembayaran kampus yang dianggap memberatkan. Meredam mahasiswa dengan cara-cara seperti itu adalah gaya orde baru, rasis dan fasis,” kata Suyuti pimpinan kota FPPI Mamuju.

Sambung Yuti, rektor Unasman harus meminta maaf secara umum dan terbuka, jangan sampai itu memicu konflik yang tidak diinginkan. Bagaimana mungkin FPPI yang didirikan sebagian teman-teman alumni pesantren, ada anak kiyai, bahkan pemuda-pemuda NU dicap sebagai organisasi terlarang.

“Rektor Unasman gagal paham, tidak update dan pasti jarang baca berita. Silahkan telusuri jejak kami yang cinta dan harga mati untuk NKRI, bahkan khusus FPPI di Sulbar adalah anak-anak muda NU,” tegas Suyuti.

Terkait hal ini, rektor Unsulbar belum ada memberi keterangan dan belum dapat dihubungi. (Anhar Toribaras)

Bagikan
banner 728x90