banner 728x90

Pemuda dan Perubahan

1357 views
banner 728x90
Arfandi Yaumil

Arfandi Yaumil

Oleh : Arfandi Yaumil Ambo Djiwa (Ketua KNPI Mamuju Utara)

Ignazio Silone mengatakan berikanlah aku seratus pemuda yang sanggup hidup jujur dan menderita, maka akan kurombak wajah Italia.

‘’Kalau pada saya diberikan seribu orang tua, saya hanya dapat memindahkan gunung semeru, tapi kalau sepuluh pemuda diberikan kepada saya, maka seluruh dunia dapat saya goncangkan”

Ungkapan ini, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia,” merupakan ungkapan harapan sosok seorang proklamator bangsa Kepada Pemuda. Momentum 28 oktober merupakan hal penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sebagai avant garde atau ujung tombak, pemuda memiliki peran penting mulai tahap awal perjuangan sampai titik puncak deklarasi proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Peran generasi muda dalam kemajuan bangsa tidak dapat dielakkan, bahkan ditegaskan jauh hari sebelumnya oleh Bung Karno “Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia” betapa pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa dan negara. Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan negara. Generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change, moral force and social control sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat.

Dalam perjalanan peradaban suatu bangsa, dinamikanya selalu dikaitkam dengan eksistensi pemuda. Pemuda sebagai generasi penerus estafet perjalanan bangsa selalu menjadi garda terdepan dalam mendorong perubahan sosial.

Ditengah persaingan global, Bangsa Indonesia mengalami tantangan yang begitu besar, pemuda diharapkan mengambil peran penting di garis terdepan. Persoalan bangsa tersebut diantaranya, disorientasi dan belum Dihayatinya Nilai-nilai Pancasila sebagai Filosofi dan Ideologi Bangsa.

Pancasila sebagai dasar negara, yang lahir dari rumusan para pendiri bangsa yang bersumber dari budaya Indonesia seharusnya menjadi ideologi dan pandangan hidup. Fungsi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila adalah dasar dari ideologi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dalam bahasa Sansekerta : Pancha berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas. Pancasila adalah rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maka sungguh sangat wajar ketika pancasila dijadikan sebagai kristalisasi nulai nilai kehidupan masyarakat oleh karena lahir dari akar budaya indonesia dan menjadi idiologi bangsa, hal tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Pemuda Indonesia harus menjadikan pancasila sebagai manifestasi dalam sikap dan perilaku kepribadiannya menjadi karakter pribadinya sebagai generasi muda yang lebih baik.

Munculnya persoalan bangsa Indonesia hari ini dengan banyaknya terjadi kekerasan domestik maupun nasional dan pengaruh dampak globalisasi yang berdampak terhadap perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme. Persoalan tersebut muncul oleh karena komponen bangsa Indonesia tidak lagi menjadikan pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidupnya. Maka peran dan fungsi pemuda harus menjadikan pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup karena akar persoalan bangsa kita hari ini adalah terjadinya disorientasi karena belum dihayatinya nilai-nilai pancasila.

Berikutnya adalah problem Kualitas Sumber Daya Manusia. Sebagai negara berkembang Indonesia pernah menjadi negara yang disegani dalam berbagai aspek, wajar jika Indonesia disebut macan Asia. Namun fakta mengejutkan Indonesia dalam asfek pendidikan menurut UNESCO,  pendidikan Indonesia menempati peringkat ke 10 dari 14 negara. Dalam data tersebut ada beberapa hal yang menjadi penilaian diantaranya aspek guru. Indonesia dalam aspek guru menempati peringkat 14 dari 14 negara berkembang di dunia. Hal ini sangat mengejutkan dan menyakitkan betapa dulu Indonesia yang membimbing dan membina guru guru di beberapa negara Asia termasuk Malaysia. Indonesia pernah mengirim beberapa kebutuhan guru di Malaysia.

Salah satu masalah dalam dunia pendidikan adalah rendahnya kualitas guru. Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana disebutkan dalam pasal 39 UU No.20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan, melakukan pelatihan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Kondisi guru di Indonesia memang sangat memprihatinkan bahkan presetase guru yang tidak layak mengajar masih sangat tinggi.

Untuk membangun kualitas pemuda masa depan eksistensi lembaga pendidikan sangat penting perannya sebagai  wadah pembinaan dan mencetak generasi muda yang berkualitas.

Selanjutnya adalah Problem Ekonomi. Indonesia dengan jumlah penduduk 255 juta jiwa memiliki potensi besar dari sisi daya beli dan komsumsi. Hal ini merupakan potensi yang besar dalam membangun ekonomi bangsa yang lebih baik.

Peluang dan tantangan bangsa dalam menghadapi persaingan ekonomi global begitu berat. MEA yang lahir dari KTT Asean mengumumkan pembentukan ASEAN Comunity pada tahun 2020 yang terbagi atas tiga filar yaitu political-security comunity, ecinomic comunity, socio-cultural comunity.

Dalam menghadapi persaingan global ini, kita diperhadapkan pada problem yang begitu besar, generasi muda masih mengalami keterbelakangan, di Indonesia Jumlah penganggur terdidik setiap tahun terus bertambah, seiring dengan diwisudanya sarjana baru lulusan berbagai perguruan tinggi.

Kondisi bangsa akan diperhadapkan terhadap persoalan ekonomi, jumlah enterpreneur di Indonesia masih kecil yakni 1,65 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Idealnya, sebuah negara maju harus memiliki minimal jumlah wirausaha sebanyak 2 persen dari total populasi. Amerika memiliki  usahawannya mencapai 11,5 persen. Singapura memiliki 7,2 persen, Jepang 11 persen, Tiongkok 10 persen dan Malaysia 3 persen. Indonesia dengan jumlah penduduk yang lebih tinggi dari Singapura dan Malaysia, tentunya membutuhkan usahawan yang lebih banyak. Menurut Pospayoga lulusan SMA di Indonesia yang  yang berminat untuk menjadi wirausaha hanya dikisaran 22,4 persen.

Sebagai pemuda dalam menghadapi realitas bangsa kedepannya harus mempersiapkan diri dan mengambil peran penting dalam pembangunan ekonomi bangsa.

Dengan melihat persoalan bangsa maka pemuda harus mengambil penting dalam menghadapi tantangan Global. (*)

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.