banner 728x90

Kesal Lahan Dikusai Preman, Warga 2 Desa Lakukan Pembakaran Rumah dan Pondok

banner 728x90
Rumah yang dibakar warga

Rumah yang dibakar warga

Matra, Katinting.com – Ratusan warga dari dua desa yakni Desa Bonemarawa dan Desa Mbulawa Kecamatan Rio Pakava Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, siang tadi membakar empat pondok satu rumah kebun dan satu hendtraktor di Desa Bonemarawa yang selama ini dikuasai oleh oknum preman yang diduga berasal dari Kabupaten Mamuju Utara.

Akibatnya kejadian tersebut 4 pondok dan satu rumah rata dengan tanah dibakar massa.

Kekesalan warga dari dua desa ini memuncak senin siang, pasalnya laporan polisi terkait dengan penyerobotan lahan perkebunan dan lahan persawahan yang duga dilakukan sejumlah oknum preman dari wilayah berbeda tak kunjung diproses oleh pihak pemerintah dan pihak kepolisian, demikian disampaikan warga saat berada dilokasi sengketa, akibatnya ratusan masyarakat ini memilih melibatkan tokoh adat agar lahan persawahan seluas 150 hektar dikembalikan ke tanah adat.

Selain memasang plang forum lembaga adat kaili tado. Ratusan warga juga membakar sejumlah pondok yang berada di wilayah sengketa  bahkan sebuah rumah kebun milik oknum preman yang diduga melakukan penyerobotan dan menguasai lahan selama ini juga ikut di bakar warga, beruntung saat kejadian pembakaran yang dilakukan warga pemilik rumah sedang tidak berada di tempat sehingga tidak memicu bentrokan.

Usai melakukan pembakaran yang dilakukan ratusan warga dari dua desa, massa kemudian membububarkan diri dan menyerahkan penyelesaian sengketa lahan tersebut kepada lembaga adat yang sudah disepakati oleh warga dari dua desa yang bersengketa dengan oknum preman.

Simoen, Kades Mbulawa yang dikonfirmasi mengatakan, “Kasus ini sudah dilaporkan beberapa tahun lalu kepemerintah dan kepolisian dan bahkan pertemuan sudah dilakukan beberapakali baik di abupaten Mamuju Utara dan Kabupaten Donggala. Namun sampai hari ini belum ada penyelesaian, sehingga saat ini warga melakukan pendudukan paksa dan mengembalikan tanah sengketa ini kembali ketanah adat untuk di carikan penyelesainnya,” pungkas Simoen. (Joni)

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.