banner 728x90

Warga Soroti Pembangunan Talud Sumare Yang Diduga Menggunakan Pasir Laut

banner 728x90
Talud yang di Sumare

Talud yang di Sumare

Mamuju, Katinting.com – Warga Dusun Batu Lappa, Desa Sumare, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, geram dan ikut menyoroti proyek pembangunan Talud yang dikerjakan CV. Cappaga Putra Kire, lantaran diduga kuat menggunakan material pasir laut.

“Rekanan proyek Talud ini  diduga menggunakan pasir laut sehingga kualitas bangunan tidak akan bertahan lama. Bukan hanya itu, proyek itu juga menggunakan air payau yang digali disekitar bibir pantai. Kondisi ini jelas akan menyebabkan bangunan talud tidak akan bertahan lama,” kata Al salah satu sumber yang meminta tidak dipublikasikan identitasnya di Mamuju, Minggu (28/08).

Menurutnya, proyek pembangunan Talud sepanjang 100 meter ini dengan memanfaatkan sumber pembiayaan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun anggaran 2016, dengan nilai sekitar Rp199 juta lebih.

“Saya rasa ini telah melanggar dari petunjuk tekhnis pekerjaan. Maka dari itu, pemerintah dalam hal ini dinas terkait untuk berhati-hati membayarkan proyek ini karena dianggap menuai banyak masalah,” terang AL.

Ia menyebutkan, penggunaan material dari pasir laut ini bukan tanpa alasan karena dari tumpukan terlihat banyak sampah akar pada pasir yang digunakan oleh rekanan.

Penggunaan pasir laut ini kata dia, agar rekanan mendapatkan keuntungan lebih besar tanpa memikirkan dampak kualitas bangunan itu sendiri.

“Kita sudah melihat hasil dari proyek yang sementara dikerjakan oleh rekanan. Sungguh memiriskan karena belum tuntas pekerjaan, tetapi pada sisi lain telah ada yang mengalami keretakan. Itu terjadi karena material yang digunakan tidak memanfaatkan pasir sungai,” terangnya.

Jika rekanan tidak melakukan perbaikan kata dia, maka proyek pembangunan Talud ini akan dilaporkan ke pihak aparat penegak hukum untuk dilakukan proses penyelidikan lebih lanjut.

Sementara itu,  pelaksana proyek, Hj. Kunia yang dikonfirmasi via handphone berjanji akan melakukan perbaikan jika dianggap menyalahi aturan yang ada.

“Penggunaan pasir laut ini kami manfaatkan lantaran sulit mendapatkan pasir sungai. Sementara kami terdesak oleh masa kontrak yang akan segera berakhir,” aku Kurnia. (*)

 

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.