Penampakan konstruksi jembatan penghubung Tumbu dengan Tanjung Lallere dan Dato, yang dikeluhkan oleh masyarakat. (dok. Ist)
banner 728x90

 

Mamuju Tengah, Katinting.com – Tahun anggaran 2022 pemerintah kabupaten Mamuju Tengah, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengalokasikan anggaran kurang lebih Rp.2 miliar, untuk pembangunan jembatan penghubung Ibukota Desa Tumbu dengan Dusun Tanjung Lallere.

Akan tetapi jembatan yang dibangun dengan desing permanen mendapat penolakan dan keluhan dari warga, karena tampilan konstruksinya, justru menjadi pemicu jembatan tersebut tak akan lama dinikmati manfaatnya oleh masyarakat yang berlalulalang, antar Ibukota Desa Tumbu dengan Dusun Tanjung Lallere ini, dikarenakan elevasi jembatan yang tinggi, namun sayap jembatan, justru tak cukup kuat menahan punggung jembatan.

Salah seorang tokoh pemuda di Desa Tumbu, Kecamatan Topoyo, Mamuju Tengah, Muh Amri, menyampaikan aspirasi penolakan dan keluhan warga pada kondisi konstruksi jembatan, sebab patut diduga dengan kondisi sayap yang tergantung saat ini, justru jembatan beberapa waktu ke depan, akan gampang runtuh punggungnya karena abrasi akibat hujan.

“Masyarakat Tumbu banyak yang mempertanyakan tentang pekerjaan jembatan tersebut, termasuk mempertanyakan perencanaan dan designya, ini pertanda adanya penolakan masyarakat dengan kondisi jembatan seperti itu.” sebut Amri.

Ia menuturkan masyarakat itu butuh dibangunkan jembatan yang memang manfaatnya besar dan berkepanjangan, bukan kemudian yang dibangun, menghabiskan dana miliaran rupiah, tapi manfaatnya tidak berkepanjangan dirasakan dan dinikmati masyarakat.

“Seperti kondisi yang ada saat ini, sebab saat jembatan tersebut berulang kali di guyur hujan kedepan, dan naiknya air laut pasang, maka saya jembatan itu akan longsor karena abrasi, atau terkikis air hujan dan air laut, karena tidak ada tembok penahan timbunan punggung jembatan” tutur Amri.

Karenanya ia mempertanyakan konsultan pengawasnya, saat pekerjaan jembatan itu berlangsung, sebab tak masuk dinalar, designya seperti itu, sayapnya terlalu pendek sementara elevasinya cukup tinggi. Termasuk kemudian mempertanyakan Dinas PUPR Mamuju Tengah, atas kontrol pada proyek miliaran rupiah itu, kenapa sampai kondisinya demikian.

“Karena jembatan yang dibangun itu potensi kembali rusak dan tak bertahan lama soalnya selain abrasi juga sayap jembatan tak dipasang besi di badan jembatan sayap jembatan hanya tertempel masuk di badan jembatan.” imbuh Amri.

Sementara upaya konfirmasi ke Kadis PUPR Mamuju Tengah, belum membuahkan hasil, sebab sampai berita ini naik tayang, nomor kontak Kadis PUPR, sedang dalam kondisi tidak aktiv. (Fhatur Anjasmara)

Bagikan
Deskripsi gambar...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here