Korban A saat menjalani perawatan. (Ist.)
banner 728x90

Mamuju, Katinting.com – Pemukulan terhadap warga masyarakat yang diduga dilakukan oknum polisi terjadi beruntun, minggu malam (17/2). Pertama kejadiannya di depan hotel Yaki Mamuju, jalan Abd. Wahab Asasi dan satu lagi di depan Cafe Nina’s jalan Abd. Malik Pattane Endeng Mamuju.

Menurut keterangan Dir Sabhara Polda Sulbar, Kombes Pol Muh. Syarif Harjo Saputro, dalam konferensi persnya (18/2), Kejadian di depan hotel Yaki Mamuju, diduga diakibatkan oleh pemuda yang mabuk kemudian mendapat teguran dari kepolisian, karena tidak terima akhirnya memanggil temannya dan kejadian tidak mengenakkan tidak bisa dielakkan.

Lebih lanjut Kombes Pol Muh. Syarif Harjo Saputro, menerangkan. Melakukan penyelidikan lebih lanjut dan jika anggotanya bersalah akan memberikan sanksi tegas.

Sementara itu, kejadian kedua menimpa anak dibawah umur inisial A (16), yang dilakukan oleh salah satu anggota Brimob Polda Sulbar. Diduga melakukan pemukulan pada Minggu malam (17/2), sekitar pukul 23.45 Wita, bertempat di depan Cafe Nani, Jl. Abdul Malik Pattana Endeng, Simboro, Mamuju.

Korban, A (16) saat dikonfirmasi Katinting.com via telpon seluler, Senin (18/2) mengatakan, dirinya salah masuk lorong, hingga berada di asrama Brimob. Setibanya dilorong, ia dikejar oleh dua anggota Brimob.

Setelah kejer-kejaran, Arif akhirnya tertangkap didepan Cafe Nina. Pada satu itu arif mendapat perlakuan yang kasar dari salah satu dari dua anggota Brimob tersebut.

Arif bercerita, perutnya dipukul sebanyak satu kali lalu di dorong, hingga tersungkur ke tanah. Setelah itu, dibawa ke Markas Brimob.

“Pertama itu na dapatka di pinggir jalan na pukul perut ku satu kali baru na dorong ditanah. Baru na bawa ka masuk asramanya nasuruh ka membersihkan got, menyapu. Satu malam disana. Saya disuruh merokok padahal saya tidak merokok,” ujarnya.

Ia pun heran mengapa sampai dipukuli, “Saya tidak tau kenapa dipukul, dikejar saja padahal nda sampai ke asramanya. Sampai-sampai sakit rahangku , berdarah hidungku,” sebut dengan mengiba.

Ia juga menegaskan jika atas kejadi tersebut berharap diproses hukum dan tidak ingin berdamai.

Sementara itu, keterangan berbeda disampaikan oleh Kasat Brimob AKBP S. Hermawan terkait kejadian tersebut.

Saat diwawancara Katinting.com (Senin, 18/2), Kasat Brimob AKBP S. Hermawan menjelaskan, “Ketika anggota ini keluar dari kantor, sekitar jam 11 atau 12 itu, kan ada jalan raya. Ada motor itu ngebut dari arah arteri menggunakan jalur sebelah kiri yang seharusnya itu dia dijalur sebelah kanan. ¬†Hampir nabrak. Pengendara ini di teriaki. Akhirnya dia kabur tapi arahnya ke Brimob. Mungkin dia tidak tau. Di teriaki lagi, balik arah dia keluar, dikejarlah. Yang mengejar ini juga anggota provost yang pada saat itu melaksanakan patroli Gaktibplin (Penegakan Ketertiban dan Disiplin).

Lanjut ia menjelaskan, Ini kejar-kejaran, apalagi yang dikejar ini tidak menggunakan lampu tidak ada plat nomor polisi ya otomatis karena malam hari, insting kepolisian pasti jalan, apalagi sempat masuk ke asrama.

Sambung Kasat Brimob Polda Sulbar, ditangkaplah di Cafe Nina dan anggota ini sobek sininya (menunjukkan bagian tangannya, red) yang sebelah sini, mungkin pada saat mepet itu mungkin adu main sama stang mungkin ya ada enam jahitan, jelasnya.

Masih kata Kasat Brimob. Di dorong jatuh. Pada saat jatuh itulah mungkin spontanitas melaksanakan pelumpuan, itu tapi terukur.

Menjawab terkait anak tersebut sempat ditahan di markas Brimob, Kasat Brimob mengakui hal tersebut, namun ia menjelaskan hanya dalam rangka pembinaan.

“Memang pada saat ketangkap, dibawa ke Mako Brimob, ini benar, bekerja ini supaya memberikan efek jera sama dia. Bukan bekerja paksa hanya dalam rangka pembinaan.

Versi yang berbeda, antara korban dan pihak Brimob. kasat Brimob mengatakan, sampai saat ini masih dalam tahap klarifikasi dengan pihak keluarga dan pihak kami (Brimob Polda Sulbar) untuk membenarkan berita tersebut.

Namun itu, Ia menegaskan akan tetap memberikan tindakan tegas sesuai ketentuan yang ada ini untuk memberikan efek jera kepada anggotanya, jika apa yang dilakukan salah, sehingga ada kepastian hukum bagi masyarakat, korban juga kepada anggota kami, sebutnya.

Aktivis perlindungan perempuan dan anak, pendiri LSM Kartini Manakarra menyangkan adanya kejadian tersebut, yang menimpa seorang anak yang masih dibawah umur.

“Kami sangat menyangkan kejadian tersebut. Sebagai seorang polisi, institusi pelindung dan pengayom masyarakat tentunya haruslah memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik. Apapun alasannya tidak dibenarkan adanya kontak fisik yang sampai membuat anak luka-luka,” kata Dian Daniati S.Sos.

Sambung Dian berharap, kasus kekerasan terhadap anak tersebut bisa dituntaskan dan memberi efek jera terhadap pelakunya. Apalagi kata Dian, Mamuju telah dicanangkan sebagai Kota Ramah Anak, sehingga mewujudkan hal tersebut kepolisian harus memberikan dukungan dengan dimulai dari prilaku anggota polisi itu sendiri. Kuncinya.

” Polisi Ramah anak adalah kebutuhan masyarakat Mamuju, tegas tidak harus keras kan,” tutupnya.

(Ki-ka) Kasat Brimob, DIr Sabhahara dan Kabid Humas Polda Sulbar saat menggelar konferensi pers. (Foto Anhar)

(Anhar/Zulkifli)

Bagikan
Deskripsi gambar...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here