
Katinting.com, Sangatta – Seperti mata air yang tak pernah kering memberi manfaat, rekam jejak Alimudin, Kepala Desa Kandolo, menjadi kisah inspiratif bagi masyarakat Kutai Timur. Dikenal sebagai pemimpin desa yang lahir dan besar di lingkungan masyarakat agraris Kandolo, Alimudin menapaki karier dari bawah sebelum akhirnya dipercaya warga memimpin desa tersebut. Konsistensinya membangun tata kelola desa yang transparan, inovatif, dan inklusif menjadi alasan ia terpilih mewakili Indonesia dalam The 8th ASEAN Plus Three Village Leaders Exchange Programme di Yunnan, Tiongkok, pada 5–11 Mei 2019.
Latar belakang Alimudin sebagai seorang pemuda desa yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial menjadi pondasi awal kepemimpinannya. Dalam beberapa tahun memimpin Kandolo, ia mencatat sederet prestasi, di antaranya penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), peningkatan partisipasi warga dalam musyawarah desa, serta pengembangan program ekonomi berbasis potensi lokal. Kiprah inilah yang membuat Kemendes PDTT menetapkannya sebagai salah satu delegasi nasional bersama Hardi (Kades Poleonro, Bone, Sulsel) dan Sumaryono (Kades Margasakti, Bengkulu Utara).
“Saya merasa program ini sangat baik karena membangun kapasitas pemimpin desa dalam pengembangan ekonomi, infrastruktur, dan SDM. Sekembalinya ke Kutim, saya lebih punya ide-ide untuk majukan Desa Kandolo,” ujar Alimudin saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria, Sangatta Utara, pada Sabtu (29/11/2025).
Ia menuturkan bahwa berbagai materi dan praktik pembangunan desa modern yang ia pelajari di Tiongkok — mulai dari manajemen aset hingga pemanfaatan teknologi sederhana dalam layanan publik — telah ia adaptasikan secara bertahap di Kandolo. Menurutnya, pengalaman ini menjadi bahan bakar penting untuk mengembangkan kebijakan desa yang lebih maju.
Prestasi Alimudin tak berhenti di forum internasional itu. Di tingkat daerah, ia dikenal sebagai kades yang berhasil mendorong transparansi anggaran desa, memperkuat administrasi pemerintahan, serta menginisiasi sejumlah program pemberdayaan perempuan dan pemuda. Di bawah kepemimpinannya, Desa Kandolo juga mulai aktif menjalin kerja sama antardesa dan memperluas akses pelatihan bagi warganya.
“Saya lebih percaya diri untuk membangun desa. Sepertinya desa sudah saatnya mandiri, punya APBDesa yang kuat. Dengan Pariwisata, Perikaanan dan Pertanian yang kami rancang. Kami optimistis Kandolo semakin maju dan sejahtera,” tutupnya.
Dengan rekam prestasi yang terus bertambah dan dedikasi yang tak surut, Alimudin berharap Desa Kandolo dapat menjadi contoh desa yang adaptif, modern, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal. Ia menegaskan bahwa pembangunan desa harus dimulai dari komitmen dan keberanian untuk terus belajar. (ADV).






