Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kades Kandolo Galakkan Aren Genjah, Komoditas Lokal yang Terlupakan

Katinting.com, Sangatta – Di tengah dominasi kelapa sawit di Kutai Timur, Desa Kandolo justru menaruh harapan pada tanaman khas yang mulai terpinggirkan: aren genjah. Komoditas lokal ini, yang dahulu tumbuh liar di hutan, kini telah menjadi bagian penting dari ekonomi desa berkat nilai tambah dari produk turunannya.

Kepala Desa Kandolo, Alimuddin, mengatakan bahwa aren memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi desa. Produk seperti gula semut, gula cetak, hingga jahe merah instan yang dihasilkan UMKM lokal telah menembus pasar daring nasional.

“Kami punya UMKM berbasis aren yang produknya sudah masuk marketplace. Gula semut, gula cetak, jahe merah—itu semua hasil dari tanaman ini,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Meski potensi ekonomi tinggi, Alimuddin mengaku prihatin dengan menurunnya minat warga untuk membudidayakan aren. Menurutnya, masyarakat lebih memilih kelapa sawit karena dinilai lebih ringan perawatannya.

“Kalau orang punya sawit 10 hektare, 1 hektare aren itu mampu menyamai hasilnya,” tambahnya menegaskan keunggulan aren secara ekonomi.

Aren genjah sendiri merupakan varietas unggul nasional yang dilepas resmi oleh Kementerian Pertanian pada 2011. Jenis ini mulai menghasilkan nira pada usia 5 hingga 6 tahun, jauh lebih cepat dibandingkan aren biasa. Selain itu, bagian lain dari tanaman seperti ijuk, lidi, dan kolang-kaling juga memiliki nilai komersial.

Namun tantangan terbesar adalah minimnya regenerasi petani. Saat ini hanya tersisa sekitar 18 petani aktif di Kandolo, sebagian besar berusia di atas 40 tahun.

“Permintaan cukup tinggi, tapi kami kewalahan menyadap dan mengolahnya. Anak muda sekarang lebih memilih sawit atau menjual bibit saja,” ungkap Sakka, petani aren setempat.

Melihat kondisi ini, pemerintah desa berinisiatif mengembangkan berbagai program pelatihan pertanian, membina UMKM lokal, dan membuka akses promosi melalui gerai produk wisata. Alimuddin berharap dukungan lebih besar dari pemerintah dan pihak swasta untuk membangun kembali kejayaan komoditas aren.

“Kami tidak bisa kerja sendiri. Kalau ada dukungan nyata, aren ini bisa kembali jadi kebanggaan Kutim, bahkan Kalimantan Timur,” tutupnya. (ADV).

Share: