
Katinting.com, Sangatta – Potensi wisata di Desa Bumi Etam Kecamatan Kaubun, Kutai Timur mendapat sorotan.. Kepala Desa Laurentius Martin menegaskan bahwa kawasan mangrove di wilayahnya memiliki peluang besar menjadi destinasi unggulan daerah. Saat diwawancarai di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, Sabtu (29/11/2025), Martin menyampaikan bahwa keindahan mangrove tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perencanaan atraktif dan strategi wisata yang matang.
Menurut Martin, mangrove memiliki kekuatan visual dan nilai ekologis yang tinggi, namun wisata tidak bisa hanya mengandalkan panorama. Agar mampu menarik minat wisatawan, harus ada konsep yang dirancang secara profesional dan menggugah rasa ingin tahu pengunjung.
“Wisata itu paling tidak harus memiliki unsur atraktif. Ada beberapa mangrove di sini, tapi siapa yang mampu merencanakan agar mangrove ini punya daya tarik luar biasa yang bisa menyedot wisatawan?” katanya.
Ia menjelaskan bahwa wisata mangrove memerlukan sejumlah elemen pendukung, mulai dari konsep atraksi, jalur edukasi, spot foto yang dirancang estetis, sarana transportasi air, hingga paket wisata budaya dan kuliner yang terintegrasi. Tanpa rangkaian pendukung tersebut, kunjungan hanya akan terjadi sesekali dan tidak akan mampu menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan.
Martin menilai bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan wisata desa adalah lemahnya sinkronisasi antara kebijakan desa dan kabupaten. Menurutnya, pembangunan desa seharusnya sejalan dengan visi kabupaten karena desa adalah perpanjangan tangan dari kebijakan daerah.
“Desa ini kan perpanjangan tangan dari visi misi Kabupaten. Harus sinkron dan harmonis,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa selama ini desa kerap berjalan tanpa arahan hilirisasi dari kabupaten. Dinas memberikan pelatihan, tetapi tidak membuka arah pasar. Pemerintah desa menyediakan lahan atau fasilitas, namun pihak perusahaan tidak menyerap hasil atau tidak menjalin kemitraan yang berkelanjutan.
Martin menegaskan bahwa kemajuan desa membutuhkan kolaborasi yang kuat dan berkesinambungan antara berbagai pihak, meliputi pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dinas teknis, perusahaan yang beroperasi di sekitar desa, hingga kelompok masyarakat.
“Tidak hanya pemerintah yang harus sustain. Sektor swasta juga harus ikut menggali potensi desa,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan, baik di sektor pertambangan, perkebunan, maupun perikanan, dapat menjadi off-taker, pembina pasar, atau pembuka akses distribusi untuk memperkuat ekonomi desa. Menurut Martin, kolaborasi semacam itu sangat penting untuk memastikan bahwa potensi mangrove maupun potensi lain di desa tidak hanya berhenti pada wacana pembangunan, melainkan benar-benar menjadi sumber penghidupan warga.
Dengan peluang wisata yang kuat dan kekayaan ekologi mangrove yang khas, Martin berharap Desa Bumi Etam dapat mengembangkan konsep wisata terpadu yang tidak hanya memikat pengunjung, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. (ADV).






