banner 900x90

Usia Ke-24, AJI Tetap Independen di Tahun Politik

98 views
banner 900x90

Jakarta, Katinting.com – Memasuki usia ke-24 tahun, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia meminta para jurnalis untuk tetap independen dalam menjalankan tugasnya. Hal ini menyusul momentum pesta demokrasi 5 tahunan yang akan diselenggarakan 2019 mendatang.

Ketua AJI Indonesia, Abdul Manan mengatakan, di usia yang tak lagi muda ini AJI Indonesia ditantang tetap berpegang pada independensi. Hal yang paling mudah dilaksanakan untuk independen adalah para jurnalis menahan diri menggunakan media sosial di tahun politik ini.

“Di media sosial, sikap jurnalis akan memengaruhi citranya terhadap orang lain,” katanya dalam sambutan ulang tahun AJI ke-24 di Bentara Budaya, Jakarta (7/9) malam.

Lebih lanjut, Abdul Manan meminta agar para jurnalis mengikuti kode etik yang telah diterjemahkan dalam kode perilaku. “Di dalam kode perilaku yang kita buat sejak 2017 lalu, seluruh tindak tanduk jurnalis telah diatur untuk mengikuti kode etik, termasuk bermedia sosial,” katanya.

Saat peringatan ini, AJI meluncurkan program membangun Rumah Jurnalisme. Rumah ini diproyeksikan hingga 75 persen untuk ruang publik seperti tempat training dan perpustakaan. Proyek pembangunan kantor AJI di Kawasan Kwitang, Jakarta Pusat ini nantinya akan melibatkan publik dalam pendanaan.

AJI juga memberikan sejumlah penghargaan di antaranya Udin Award, Tasrif Award dan SK Trimurti Award. Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada mereka yang berdedikasi dalam memperjuangkan kebebasan pers.

Para nominasi Udin Award 2018 adalah para jurnalis atau kelompok jurnalis yang menjadi korban kekerasan sepanjang Agustus 2017 hingga Juli 2018, dan usulan dari berbagai pihak. Dalam catatan AJI, setidaknya ada 75 kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terjadi sepanjang rentang waktu itu. Bahkan buntut dari kekerasan itu kemudian melahirkan tindakan persekusi terhadap media dan jurnalis oleh kelompok yang tidak setuju dengan pemberitaan.

Dengan berbagai pertimbangan itu maka dewan juri Udin Award tahuh ini akhirnya memilih Tempo Media dan Heyder Affan dari BBC Indonesia sebagai pemenang Udin Award 2018.

Tempo Media, menerima serangan persekusi oleh kelompok Front Pembela Islam setelah menurunkan karikatur yang dianggap melecehkan pimpinan FPI Rizieq Shihab. Jauh sebelum persekusi FPI, Tempo hampir selalu menghadapi serangan serta gugatan namun tak sedikit pun menyurutkan daya kritisnya untuk terus menyajikan berita bagi publik.

Sementara itu, Heyder Affan, wartawan BBC Indonesia, dipilih setelah beberapa waktu lalu mengalami pengusiran saat meliput penanganan masalah campak dan gizi buruk di Papua hingga dia tak bisa melanjutkan liputan. Affan dan dua rekannya, diusir oleh aparat keamanan karena dituding memberitakan kondisi yang tidak memihak pada upaya penanganan yang dilakukan pemerintah.

Sementara Tasrif Award didedikasikan untuk mengenang Suardi Tasrif. Sosok ini dikenal sebagai “Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia” dan orang yang tidak kenal lelah memperjuangkan kemerdekaan berpendapat, hak konstitusional yang selalu disebut-sebut sebagai hak fundamental pemenuhan HAM.

Pada Tasrif Award 2018 ini, dewan juri menyatakan Masyarakat Anti Fitnah Indoensia (MAFINDO) sebagai pemenang Tasrif Award. Dewan juri menilai, apa yang selama ini dikerjakan MAFINDO merupakan satu usaha yang konsisten dan gigih memerangi massifnya sebaran konten-konten bohong atau hoax.

Penghargaan bergengsi berikutnya adalah SK Trimurti. Penghargaan ini diberikan AJI dalam upaya mengenang dan menghormati perjuangan seorang perempuan pahlawan nasional, sekaligus jurnalis perempuan bangsa ini yakni Soerastri Karma Trimurti.

Dewan Juri mempertajam kriteria dengan mempertimbagkan situasi maraknya intoleransi, keberagaman dan masifnya penggunaan media digital. Devi Asmarani salah satu dari lima calon nomine Penghargaan SK trimurti 2017 yang menarik perhatian Dewan Juri.

Mereka menilai Devi telah mempunyai kepedulian dan aktif menyuarakan persoalan perempuan dan kesetaraannya. Devi telah melakukan perjuangan feminisme melalui tulisan, buku dan medianya. Dia berani membangun media yang tidak mainstream dan membuat konten yang berbeda di tengah pertarungan media daring yang sengit.

(Rls AJI)

banner 900x90
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.