banner 900x90

Terkait Gempa, Ini Pesan Pihak BMKG dan Bupati Mamasa kepada Warganya

375 views
banner 900x90

Bupati Mamasa saat memberikan imbauan. (Foto : Zulkifli)

Mamasa, Katinting.com – Gempa yang mengguncang Mamasa dan terasa hampir semua wilayah Sulawesi Barat sejak lima hari terakhir membuat warga Mamasa memilih untuk mengungsi.

Informasi yang diterima dari BPBD Kabupaten Mamasa, diperkirakan sebanyak 5.000 warga Mamasa yang mengungsi di Sumarorong. Mereka meninggalkan rumah dan harta benda mereka karena takut terjadi gempa susulan. Dengan perbekalan seadanya, warga Mamasa bersama anak-anak mereka memilih mengungsi di pelataran sekolah SD Inpres Tabone dan di bandara Sumarorong, yang berjarak 50 Km dari Mamasa.

Hari ini, Rabu (7/11), Bupati Mamasa, H. Ramlan Badawi, bersama rombongan mengunjungi pengungsi yang ada di SD Inpres Tabone. Dalam kunjungannya tersebut, Bupati menghimbau agar segenap pengungsi segera kembali ke Mamasa.

Hal tersebut disampaikan Bupati setelah pihak BMKG Wilayah IV memberi penjelasan kepada pemerintah bahwa gempa bumi di Mamasa tidak berpotensi terhadap timbulnya hal-hal yang seperti yang terjadi di daerah lain yang terkena gempa bumi.

“Masyarakat panik dan meninggalkan Mamasa, karena mereka terkontaminasi dengan isu-isu yang tidak memiliki dasar. Masyarakat dengan sendirinya mengembangkan isu dari mulut kemulut hingga menjadi viral dan melahirkan sebuah kepanikan yang berlebihan,” ujar Ramlan.

Selain itu Bupati juga menghimbau agar layanan publik di fasilitas umum dan Pemerintah tetap berjalan normal seperti biasanya.

Selain Bupati, Kapolres Mamasa AKBP. Arianto, juga menyampaikan hal yang sama. Menyampaikan bahwa situasi keamanan di Mamasa menjadi tanggungjawab pihak Polres Mamasa bersama segenap kepolisian Polres Mamasa.

Kapolres menjelaskan bahwa penyebar berita bohong/hoax akan ditindak tegas oleh pihak Kepolisian.

Sekedar diketahui bahwa gempa yang mengguncang Mamasa beberapa hari terakhir ini membuat kepanikan yang luar biasa. Olehnya itu pihak BMKG Wilayah IV didepan ribuan pengungsi juga menjelaskan persoalan gempa di Mamasa.

Karnaen, dari BMKG Wilayah IV menjelaskan bahwa gempa di Mamasa tidak seperti gempa yang terjadi di Koro Palu Sulteng. Gempa yang terjadi di Mamasa merupakan gerakan bumi dan dianggap wajar-wajar saja. Fenomena gempa bumi menurut Karnaen sama sekali tidak berpotensi melahirkan hal-hal fatal.

“Gempanya itu tidak berbahaya karena energinya sudah terbagi-bagi. Tidak sama dengan Palu. Terkait isu rongga tanah yang seperti di Petobo Palu, yang pertama kemungkinan masyarakat cuma mengira-ngira saja. Kalau itu perlu penelitian,” ujarnya.

Tapi kami juga ada data-data geologi bahwa batuan disini, komposisinya sudah kuat. kemudian tidak ada kandungan air seperti di Palu. Kalau di Palu ada kandungan air sehingga tanahnya tergelincir. Tapi kalau disini, airnya digali mungkin kedalamannya bisa lebih dari 100 meter. Jadi tanahnya kuat, imbuhnya.

Selain itu ia juga tetap menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dengan cara menjauhi tebing, dan bangunan-bangunan bertingkat ketika kembali terjadi gempa susulan.

Setelah mendengar penjelasan dari BMKG Wilayah IV terkait gempa tersebut, sebagian pengungsi akhirnya memilih untuk kembali ke Mamasa dan sebagiannya lagi masih memilih bertahan di posko pengungsian.

“Masih banyak tinggal disini karena masih trauma. Nanti malam kalau sudah tidak ada gempa mungkin besok pagi kembali ke Mamasa. Ada juga pengungsi dari Lambanan (8 Km dari Mamasa) masih tinggal juga karena jalan ke kampungnya retak-retak,” ujar Sukmawaty (23) saat dihubungi Katinting.com.

Gempa bumi yang terjadi di Mamasa sejak Sabtu (3/11) lalu, BMKG mencatat, sudah 68 kali gempa di wilayah Kabupaten Mamasa. Gempa terakhir terjadi pada Selasa (06/11) malam, dengan kekuatan 4,6 SR.

Namun dari sejumlah gempa yang terjadi di Mamasa, gempa yang berkekuatan besar terjadi pada selasa dini hari, kamarin. Getaran gempa terasa hingga ke Mamuju, Polman, Majene, dan beberapa daerah di Sulsel seperti Tana Toraja, Toraja Utara, hingga Palopo.

Pusat gempa berada berada 12 KM arah tenggara Kabupaten Mamasa, 2.93 Lintang Selatan (LS)-119.44 Bujur Timur (BT). Getaran selama kurang lebih 35 detik dengan kekuatan 5.5 Magnitude.

Pihak BMKG saat memberikan imbauan. (Foto : Zulkifli)

(Zulkifli)

banner 900x90
Berita Sulbar
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.