banner 728x90

Ta’a…. Pamose Ditengah Gempuran Milenial

Tidak ada komentar 331 views
banner 728x90

Salah seorang penghulu Hadat Topoiyo, sedang menyampaikan Ikrar kesetiannya, kepada Tobara di Pamose. (Fhatur Anjasmara)

Laporan : **Fhatur Anjasmara

Riuh tabuhan dua buah gendang dari kulit sapi, yang ditabuh tidak kurang dari empat orang penabuh gendang, menggelegar dari kolong rumah adat to Topoiyo (baca Topoyo), menjadi penanda dimulainya ritual Pamose.

Pamose dalam bahasa orang Topoiyo, adalah sebuah hajatan hadat sebagai bentuk kesyukuran, terima kasih, dan tempat berdoa para tetuah, atas segala anugerah hidup dan limpahan resky dari sang pengcipta.

Berbeda Pamose tahun sebelumnya, yang dilaksanakan bergantian dirumah tetuah hadat, kali ini, Pomose dilaksanakan dan di pusatkan di kawasan rumah adat Topoiyo, yang baru di siapkan oleh pemerintah kabupaten Mamuju Tengah, tepatnya di Dusun Ngapaboa, Kecamatan Topoyo, yang dalam sejarahnya, Ngapaboa memiliki histori sejarah kebudayaan cukup erat dengan peradaban sosial dan kultur orang orang Topoiyo. Karenanya Ngapaboa disebut Kampung yang terbakar.

Pamose tentu bukanlah ritual hadat diselenggarakan hanya sekedar memenuhi keinginan kelompok sosial tertentu, sebab Pamose adalah ritual titisan sejarah orang orang Topoiyo, secara turun temurun, berisi persembahan kepada alam, nyanyian kepada alam, qunut terima kasih kepada alam, atas karunia sang pencipta, berupa kesehatan dan kenikmatan serta kecukupan sandang pangan, ruang hidup yang memadai.

Sumpah atau ikrar oleh para penghulu hadat, mulai dari Pontau atau Panglima kepada Tobara atau kepala suku, hingga Pondolu atau Pembuka salam kepada bumi, Pombie atau pemberi resky, Sandro atau ahli perobatan, bukan juga sekedar pertunjukan pantun tapi adalah pernyataan ikrar yang sebenar benarnya Ikrar.

Karenanya, sangat mendalam makna ucapan, dari salah seorang Topoiyo yang juga menjabat Kepala Desa Topoyo saat ini, Masri Ridwan, bahwa sangat layak prosesi Hadat orang Topoiyo menjadi tauladan bagi yang lain.

“Sebab, Adat kita adalah adat tuan rumah bagi yang lain,” tegas Masri.

Senada Masri, salah seorang anggota DPRD Mamuju Tengah, Syahril Ridwan, lewat ungkapannya, menyampaikan bahwa orang Topoiyo itu adalah orang yang sangat terbuka, kepada siapapun.

“Sepanjang orang tersebut datang membawa kebaikan, karenanya, menjadi penting kemudian, kita selalu menjaga kebaikan, keluhuran kebuyadaan kita bersama,” ungkap Syahril.

Tentu apa yang disampaikan oleh dua orang tokoh dari Topoyo ini, adalah isyarat kegelisahan kepada kita semua, bagaimana terus mengjaga eksistensi Pamose ditengah gempuran transisi kebudayaan kaum milenial, transmisi kebudayaan dari berbagai arah menggempur generasi kita dengan mudah lewat peran gawai.

Untuk itu, bagi penulis, semestinya semua pihak punya tanggungjawab yang sama memastikan Pamose ini memiliki ruang yang lebih banyak, memiliki gaung yang lebih besar, memiliki pentas yang lebih lebar, agar Pemose yang tergerus oleh peradaban milenial ini, tetap bertahan dan memiliki tempat, terlebih kepada dinas yang terkait urusan Pariwisata dan Kebudayaan, semestinya lebih peka soal Pamose dari pemilik kebudayaan ini sendiri.

Sebab faktanya, Mamuju Tengah terbentuk sudah lebih dari 7 tahun, sekali lagi, Mamuju Tengah terbentuk sudah lebih dari 7 tahun, tapi Pamose masih tertatih dalam eksistensi peradabannya, sementara disisi lain, ruang ruang alam dari Pamose adalah tuan rumah peradaban yang kita singgahi, untuk mengais rezeky, mencari nama besar, mematangkan ekonomi.

Keberuntungan hajatan Pamose tahun 2020, karena tak lagi dilaksanakan dirumah tetuah hadat dari orang Topoiyo, digilir tiap masa pelaksanaannya tiba. Sudah punya tempat khusus, tapi tetap juga menjadi catatan kecil yang penting, karena dari penelusuran penulis, tempat itu ada lewat perdebatan anggaran yang cukup dalam, artinya, sesulit itukah penghargaan kita untuk sekedar memberi ruang eksistensi yang besar pada Pamose ?.

Karenanya, ditengah perang peradaban ini, oleh serangan budaya milenial, hendaknyalah kemudian Pamose menjadi Kiblat Peradaban Kebudayaan di Bumi Lalla’ Tassisara’, jika kita ingin bicara kearifan lokal atau Local Wisdom, menjadi penting kemudian kesetaraan Pamose dengan yang lain, jika kita punya penghargaan pada Pamose.

Dan semua itu bisa terwujud, jika baik yang mengabdi di Kepariwisataan maupun di Kebudayaan, menjadi terdepan, memperlihatkan niat baiknya, bahwa Pamose itu adalah hal penting dari yang penting di Bumi Lalla’ Tassisara’ dalam bicara soal Kebudayaan.

Salah seorang penghulu Hadat Topoiyo, sedang menyampaikan Ikrar kesetiannya, kepada Tobara di Pamose. (Fhatur Anjasmara)

(**)

Bagikan

Pencarian Terkait

banner 728x90
Tag:
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Ta’a…. Pamose Ditengah Gempuran Milenial"