oleh

Siswa Tak Terima Ditegur, Keluarga Siswa Aniaya Seorang Tenaga Pendidik

banner 728x90

Mateng, Katinting.com – Salah seorang tenaga pendidik di Mamuju Tengah, mengalami kekerasan fisik akibat penganiyaan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda dari kampung salah seorang siswanya sendiri.

Kejadian penganiyaan ini di alami oleh guru bernama Ronald, salah seorang tenaga pendidik di SMAN 2 Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, pada Selasa (29/03) pekan lalu, namun kejadiannya terungkap akhir pekan kemarin.

Kronologi kejadian yang di terima laman ini, berawal saat beberapa siswa dari SMAN 2 Topoyo, Mamuju Tengah, Senin (28/03) terlambat tiba di sekolah, sehingga Ronal sebagai Guru mereka, memberikan sanksi sebagai bentuk pembinaan karakter siswanya, dengan meminta para siswa yang terlambat itu, untuk membersihkan sisa sampah di halaman sekolah.

Akan tetapi di antara siswa tersebut ada yang menolak permintaan guru mereka, untuk memungut sampah, justru siswa penolak perintah itu, dengan melepas seragamnya, dan berkata kasar pada Pak Guru Ronal, dengan ucapan yang tak pantas di keluarkan siswa berupa ancaman.

Namun dengan sikap siswanya itu, sang guru menarik seragam siswanya, yang terlepas tadi, dan meminta siswanya, kalau siswa tersebut mau pukul dirinya, silahkan, akan tetapi siswa tersebut tidak juga melakukan tindakan apapun, saat guru tadi memintanya di pukul, siswa tersebut berlalu di hadapan sang guru, akan tetapi, keesokan harinya (Selasa, 29/03), siswa tersebut datang bersama orang tuanya, pun juga ikut beberapa orang pemuda dari kampungnya.

Saat Pak Guru Ronal di panggil ke kantor inilah kemudian terjadi insiden, beberapa orang pemuda dari kampung siswa ini, menghadang Guru Ronal, dan saat itulah terjadi penganiyaan terhadap Guru Ronal, yang disaksikan oleh isteri Guru Ronal, beserta beberapa orang siswa.

Atas penganiyaan pada Guru Ronal ini, dua organisasi profesi guru di Mamuju Tengah, masing masing Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Mamuju Tengah dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Mamuju Tengah. Dalam keterangan persnya, PGRI Mamuju Tengah, bahwa pihaknya menyayangkan kejadian yang menimpa Guru Ronal.

“Ketua PGRI sngat menyayangkan kejadian tersebut yang telah melukai perasaan Tenaga pendidik, kita akan kawal masalah ini sehingga kedepan guru punya martabat” tegas Ketua PGRI Mamuju Tengah Busdir, melalui Sekertarisnya Marhudding Rosniah, Minggu (03/04).

Terpisah, Ketua IGI Mamuju Tengah, Mahmud, bahwa benar kejadian tersebut,Kami selaku salah satu organisasi profesi guru di Mamuju Tengah, IGIMamuju Tengah, menyanyangkan dengan terjadinya penganiayaan guru SMA 2 Topoyo.

“Seharusnya pihak sekolah dan orang tua siswa punya langkah profesional mengambil langkah pencegahan, sekolah harus menciptakan suasana yang akrab dan kondusif dengan orang tua siswa serta masyarakat” kecam Mahmud.

Ia menambahkan, Guru adalah sosok pendidik, yang bekerja sesuai panggilan jiwa dengan niat mendidik dan mencerdaskan generasi penerus harapan kita semua, tentu peran guru mendidik punya pola sesuai dengan keilmuannya
dan orang tua siswa juga punya pola mendidik anak nya dirumahnya.

“Karenanya Kami IGI Mamuju Tengah, mendesak agar kiranya pihak sekolah dan komite segera mengadakan langkah untuk rapat pertemuan , dan mengundang pihak terkait memberikan
Sosialisasi tentang perlindungan guru . sehingga pihak sekolah , orang tua siswa dan masyarakat serta pemerintah setempat untuk menciptakan suasana sekolah yang tertib,aman, kondusif , agar fungsi sekolah sebagai tempat mencerdaskan anak peserta didik dapat terwujud, sebagai impian kita. Terpenting, semoga kejadian yang di alami oleh saudara kita guru SMA Negeri 2 Topoyo tidak terjadi lagi di Bumi Lalla Tasissara” pungkas Mahmud.

Untuk kemungkinan pelaku di seret ke ranah hukum, baik PGRI Mamuju Tengah maupun IGI Mamuju Tengah, sama siap melakukan pendampingan hukum kepada korban, untuk membawa kasus penganiyaan ini ke polisi. Karenanya, rencananya, Senin (04/04) PGRI Mamuju Tengah dan IGI Mamuju Tengah akan bertemu membicarakan persoalan ini bersama Kepala Dinas Pendidikan Mamuju Tengah.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Topoyo, Sutianti Tinggi, yang di hubungi laman ini, sejak Sabtu (02/04) hingga Minggu malam tadi, tidak memberikan respon apapun, konfirmasi yang dilayangkan pada Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Topoyo. Untuk korban, kepada laman ini, melalui isterinya, menyampaikan bahwa masih dalam kondisi belum bersedia di konfirmasi atas peristiwa penganiyaan menimpanya.

(Fhatur Anjasmara)

Bagikan

Komentar