banner 728x90

Rokok dan Kopi Teman Aktivis

1164 views
banner 728x90

Asri talondo

Penulis: Asri Talondo

“Wacana terkait akan naiknya harga rokok hingga Rp50.000,- perbungkusnya, membuat para pecandu rokok bertanya-tanya apa sih menjadi alasan, sekaligus manfaat pemerintahan Jokowi menaikan harga rokok?”

Pemuda dan mahasiswa mempunyai power yang sangat besar serta mempunyai spektrum (daya ledak) yang luas dan kuat. Sebuah kekuatan yang bukan hanya meruntuhkan tetapi juga membangun kembali tatanan sosial, ekonomi, politik, hukum, melalui kajian dan diskusi. Begitu banyak perubahan dinegeri ini yang telah ditorehkan oleh aktivis mahasiswa, mulai dari gerakan 1908, 1928, 1945, 1947, 1966, 1974, 1998 hingga saat ini mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting meskipun sedikit telah mengalami kemunduran.

Dalam deretan sejarah pergerakan tersebut tentu kopi dan rokok menjadi teman dalam mengatur strategi aksi mereka. Wacana terkait akan naiknya harga rokok hingga Rp. 50.000,- perbungkusnya, membuat para pecandu rokok bertanya-tanya apa sih menjadi alasan sekaligus manfaat pemerintahan Jokowi menaikan harga rokok? Apapun alasannya, Tentu ini sangat sulit diterima oleh para perokok, baik kaum kelas borjuis, proletariat dalam hal ini petani dan kaum buruh, kelas menengah terutama mungkin para aktivis mahasiswa.  Kebiasaan aktivis mahasiswa, bercengkrama dengan rokok disela-sela diskusi mereka apa lagi menjelang tengah malam sedikit agak canggung jika saja berhenti dengan segera jika isi kantong tak mampu lagi membeli rokok.

Tentu sangat sulit kita mengatakan bahwa rokok tidak memberikan kontribusi besar terhadap negara kenapa demikian karena penyumbang pajak terbesar sebagai pendapatan negara adalah perusahaan rokok dan coba bayangkan berapa juta orang pengangguran dan kehilangan lapangan kerja jika perusahaan rokok ditutup. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa tak sedikit korban yang sakit dan meninggal disebabkan karena rokok. Karena rokok bisa menyebabkan kanker serangan jantung dan impoten. Namun Terkadang orang mengalami kegelisahan saat tidak punya rokok tetapi banyak juga anak-anak putus sekolah karena rokok, bahkan ada yang sampai berurusan dengan kepolisian karena mencuri uang untuk sebatang rokok.

Apapun dampak negatif rokok tapi bagi para pecandu rokok sama sekali tidak terlalu memikirkan dampak negatifnya, karena rokok membawa keberkahan dan manfaat tersendiri bagi mereka. Pada awalnya tembakau dijadikan sebagai alat medis kesehatan oleh Jean Nicot asal Prancis untuk menghilangkan sakit kepala sebelah (migran).  Setelah cara ini ampuh dan mujarab, tembakau dirokok melalui pipa, dikunyah, dicampur dengan berbagai bahan dan digunakan untuk merawat pilek dan sakit gigi. Tidak hanya itu rokok sebagai alat sosial, pertama kali dilakukan oleh Suku Maya dan Indian yang sekarang disebut Amerika.

Tradisi membakar dan mengunya tembakau sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan ketika beberapa suku berkumpul. Tentunya rokok mengalami sejarah yang panjang mulai dijadikan sebagai obat sampai pada memperbanyak teman.

Di Indonesia tak sempurna  hanya membahas rokok jika tak ada kopi didalannya. Rokok dan kopi tak bisa dipisahkan. Adalah sahabat saat kami tersuntuk jenuh dalam kesendirian, sahabat sejati saat istirahat dari aktivitas kampus dan kehidupan dunia yang fana. Salah satu perekat sosial sesama teman baru ataupun teman lama dengan menawarkan rokok dan kopi kepadanya. Bersendagurau dengan secangkir kopi hangat dilengakapi dengan balutan nikotin, warkop kampus, kost, atau diteras rumah sesudah makan ataupun membaca buku menjadi sempurna. Tentu bagi para aktivis ada yang hilang ketika dalam diskusi mereka tidak ditemani oleh balutan nicotin (rokok) dan coffeein (kopi). Ada separuh jiwanya yang hilang saat seorang sahabat yang bernama rokok tidak berada dikantong dan ditengah jemari mereka.

Dalam coretan tinta sejarah gerakan aktivis mahasiswa, rokok dan kopi selalu hadir menemani setiap agenda diskusi, debat, aksi demonstrasi dan advokasi kepada kaum marginal dibumi pertiwi ini. Kopi telah menjadi oase dalam ketandusan dan paceklik pikiran mahasiswa dan pemuda dalam mengurai benang kusut problema sosial kebangsaan dimalam hari. Telah menjadi energi positif dikalah aktifitas kuliah yang menjenuhkan, telah menjadi pacar romantis dalam kegalaun, kemalasan dan kekerdilan berfikir, berkata dan bertindak dalam mengarungi dialektika keilmuan, diskusi kebangsaan khususnya menyangkut ketimpangan sistem (Ekonomi, sosial, budaya, dan Politik).

Adalah sebuah kerancuan yang luar biasa jika kemudian rokok dan kopi dimaknai serba stereotif oleh para ahli kesehatan. Rokok dan kopi dalam pemahaman dokter sejenis sabu-sabu yang jika dikonsumsi akan berakibat fatal bagi kesehatan, ternyata bisa menjadi obat mujarab dalam menyembuhkan penyakit kekerdilan dan kebuntuan berfikir dalam mengurai problema kehidupan sosial disetiap diskusi. Justru kopi dan rokoklah yang menjadikan aktivis mahasiswa menjadi lebih kritis, cerdas dan kreatif dalam menganalisis setiap persoalan sosial dan gerakan parlemen jalan.

Uraian diatas bukan bermaksud dan berniat untuk mengagung-agungkan rokok. Bahkan tanpa dia segalanya tak bermakna. Tidak sama sekali demikian, tetapi ingin makhluk seperti  rokok juga memiliki manfaat yang luar biasa dan dihargai jasa-jasanya dalam dunia pergerakan. Coba bayangkan ketika para aktivis tak lagi mampu membeli rokok, tak ada kopi ditengah diskusi mereka.  Tentu saja mereka akan mengalami kemunduran dalam mendiskusikan wacana keilmuan. Pernyataan diatas sama sekali tidak berlebihan dan ini akan menjadi realitas, kalaupun bisa dilalui membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghilangkan kebiasaan tanpa nikotin dan coffeein. Hidup Mahasiswa!

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.