banner 728x90

Perjalanan Rohani Yesus Menuju Kebangkitan

Tidak ada komentar 98 views
banner 728x90

Anton Ranteallo, SS, M.Pd., Penyuluh Agama Kemenag Mamuju.

Oleh : * Anton Ranteallo, SS, M.Pd

(Penyuluh Agama Kemenag Mamuju)

Sudah dua tahun perayaan Paskah dirayakan dalam masa pandemi Covid-19 sehingga perayaan paskah secara seremonial tidak seramai tahun non-pandemi. Namun substansi dari perayaan Paskah tidaklah berubah sedikit pun. Perayaan penyelamatan manusia ini tetap berlangsung khidmat dengan mengikuti protokol kesehatan.

Tahun ini perayaan paskah jatuh pada Minggu, 4 April. Namun sebelumnya, umat kristiani di seluruh dunia menjalani masa Prapaskah selama 40 hari. Masa Prapaskah atau pertobatan sendiri diawali dengan perayaan Rabu Abu, dimana umat kristiani menerima abu di kepala sebagai simbol bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Dengan kesadaran ini maka manusia harus selalu bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Pada masa Prapaskah ini juga umat Kristiani menjalani masa puasa dan pantang. Semua kemegahan dunia yang ada tidak ada artinya di hadapan Sang Pencipta untuk itu kita tidak boleh sombong baik secara materi maupun rohani karena kita hanyalah seonggok debu di sisi Tuhan. Pertobatan dan perendahan diri di hadapan Tuhan seyogianya selalu dikedepankan. Iman, harapan, dan kasih itulah harus diutamakan sebagai sebuah keutamaan teologal. Dengan iman mewajibkan kita untuk selalu terbuka akan wahyu diri Allah dalam Yesus berarti membuka hati bagi Firman Tuhan. Penyangkalan diri melalui aksi puasa berarti mengandalkan rahmat Tuhan, serta menyadari kerapuhan dan kelemahan kita. Puasa juga membantu kita untuk lebih mengasihi Tuhan dan sesama.

Harapan. Harapan akan ‘air hidup’ sebagaimana dikisahkan wanita Samaria: bukan hanya air yang memuaskan dahaga tubuh, tetapi air spiritual, yaitu daya Roh Kudus yang diberikan oleh Yesus yang bangkit. Di saat sulit seperti sekarang ini, masa Prapaskah memaknai pentingnya harapan: ‘Prapaskah adalah masa harapan, saat untuk kembali kepada Tuhan’. Harapan dianugerahkan kepada kita ‘sebagai kekuatan batin’, dan kita tumbuhkan dalam diri kita ‘melalui doa dan keheningan’. Mengalami harapan di masa Prapaskah berarti ‘menerima harapan Yesus sendiri, yang menyerahkan diri di salib, dan dibangkitan Bapa pada hari ketiga’.

Kasih. Kasih adalah ungkapan iman dan harapan dalam wujud paling luhur. Kasih bagaikan ‘lompatan hati’. Kita keluar dari diri sendiri untuk terarah kepada sesama dan membangun persekutuan. Kasih memberi arti bagi hidup kita. Amal kebaikan kita diperganda oleh kasih. Itulah yang diajarkan dalam Kitab Suci, tetapi juga yang kita alami dalam hidup.

Setelah masa Prapaskah umat krisitani memasuki Pekan Suci, atau Minggu Suci yang dibuka dengan Minggu Palma. Minggu Palma dirayakan untuk menyambut Yesus memasuki Yerusalem dan disambut sebagai raja. Ia dielukkan disanjung dan dipuji dengan bernyanyi hossana Raja Daud. Tapi ternyata pujian sanjungan ini hanya sekadar saja karena tak lama kemudian Ia dikhianti, disiksa, diludahi, dan bahkan disalibkan di Golota. Penderitaan yang dialami Yesus inilah yang dirayakan dalam Pekan Suci : Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Umat kristiani merenungkan peristiwa penderiaan yang dialami oleh Yesus sebagai sebuah kisah sengsara. Namun, peristiwa sengsara ini akhirnya melahirkan keselamatan lewat kebangkitan Yesus dari alam maut yang dirayakan secara meriah pada Malam Paskah.

Paska berarti hari kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus tidak berarti bahwa Kristus hidup kembali seperti Lazarus atau pemuda dari Naim ataupun anak Yairus. Mereka semua dikembalikan kepada kehidupan yang fana ini dan beberapa waktu kemudian akan mati kembali. Tidak demikian dengan Yesus. Dengan kebangkitan-Nya, Ia masuk ke dalam kemuliaan Bapa-Nya. Kristus sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi. Maut tidak berkuasa lagi atas Dia (Rm 6:9). Oleh karena itu kebangkitan dalam Kitab Suci sering disebut “Peninggian”. Yang paling pokok ialah bahwa Yesus sekarang hidup dalam kehidupan ilahi, duduk di sebelah kanan Allah. Kebangkitan berarti pemuliaan, peninggian kepada kemuliaan ilahi.

Yesus sudah mengabdikan diri-Nya sebulat-bulatnya demi cinta kepada Allah dan kepada manusia, demi Kerajaan Allah, tidak akan dibiarkan mati konyol oleh Allah! Karena cinta-Nya yang rela mempertaruhkan nyawa itu, maka Allah membangkitkan Yesus dari alam maut. Kebangkitan-Nya berarti Yesus masuk hidup/lingkup Allah yang serba berbeda dengan hidup di dunia ini. Hidup yang mulia. Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah membenarkan Yesus. Allah menyetujui warta, karya dan hidup Yesus sebagai jalan menuju ke persatuan dengan Allah.

Kebangkitan Yesus berarti Allah membenarkan dan melegitimasi warta dan karya Yesus. Kematian di salib bagi agama Yahudi berarti bahwa seseorang telah dibuang dan dikutuk oleh seluruh bangsa dan oleh Allah sendiri. Kematian Yesus di salib bagaimanapun juga menggoncangkan iman dan hidup para murid-Nya. Dengan kematian Yesus di salib itu berarti Allah telah meninggalkan Yesus. Doa Yesus di salib pun menegaskan keyakinan itu. “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Doa dari seseorang yang merasa ditinggalkan Allah. Oleh sebab itu tidak perlu heran bahwa kematian Yesus di salib sungguh menggoncangkan iman dan hidup para murid-Nya.

Pengalaman dan keyakinan bahwa Yesus telah bangkit menghidupkan kembali iman dan harapan mereka. Ia menjadi titik baik yang menentukan bagi pewartaan dan hidup mereka. Dengan kebangkitan Yesus menjadi jelas bahwa Allah tidak meninggalkan Yesus. Ia telah memuliakan Yesus. Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah mengangkat Yesus ke dalam kemuliaan-Nya. Yesus menjadi Tuhan. Sebagai Tuhan Yesus menjadi sebab dan jalan keselamatan bagi mereka yang percaya. Dengan membangkitkan Yesus dari alam maut, Allah menyatakan bahwa maut dan dosa tidak dapat menghilangkan cinta-Nya. Kiranya jelas bahwa kebangkitan Yesus menjadi sendi dan kunci iman kita. St. Paulus berkata: “Seandainya Kristus tidak bangkit, sia-sialah iman kita”.

Memang kebangkitan Yesus telah menjadikan semuanya lain. Ia menjadi titik balik yang menentukan bagi perkembangan Kerajaan Allah menuju kepada kepenuhannya. Kebangkitan Yesus adalah puncak penyelamatan kita. Sering orang berpikir, bahwa kematian Yesuslah yang menyelamatkan kita. Seolah-olah kematian menjadi target dan tujuan! Target dan tujuan kita adalah kebangkitan, kemenangan dan kejayaan. Memang harus melewati sengsara dan salib. Tetapi penyelamatan kita menjadi utuh oleh kebangkitan itu. Kebangkitan yang memberi kita jaminan. Kebangkitanlah yang memberi harapan. Kebangkitanlah yang memberi kita keberanian dan daya juang untuk bertarung melawan segala bentuk kejahatan dan memenangkan Kerajaan Allah.

Oleh karena itu, semoga perayaan Paskah di masa Pandemi ini semakin meneguhkan iman kepercayaan kita akan Yesus yang mati dan bangkit yang membawa keselamatan bagi semua orang. Perjalanan hidup yang dilalui oleh Yesus menjadi peziarahan menuju kemuliaan dan penyelamatan bagi orang yang percaya. Selamat merayakan Paskah!

(*)

Bagikan
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Perjalanan Rohani Yesus Menuju Kebangkitan"