banner 728x90

Penanganan Kasus Stunting di Sulbar Harus Dikeroyok

322 views

Hj. Andi Ritamariani, Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar. (Foto Syarif)

Mamuju, Katinting.com – Penanganan kasus stunting tidak bisa dilakukan hanya dengan satu instansi saja. Juga harus didukung oleh beberapa instansi terkait. Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Perwakilan Provinsi Sulbar.

“Harus dikeroyok (dengan beberapa instansi terkait). Stunting itu banyak sekali indikator nya yang harus terintegrasi dalam penanganan,” kata Dra. Hj. Andi Ritamariani, M.Pd., Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Sulbar. Kamis (20/12).

“Itu Dinas kesehatan sudah setengah mati bergerak bagaimana mencegah itu, tapi masih ada yang mengalami stunting. Artinya apa, ada persoalan pengan, persoalan kemiskinan, macam-macam persoalan didalam, sehingga intervensinya itu tidak bisa dijalankan satu instansi saja. Memang harus dikeroyok,” ujar Andi Ritamariani.

Stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun. Sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya.

Di Indonesia, salah satu daerah dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat sekitar 45,98 %. Provinsi yang ke-33 terbentuk di Indonesia ini, menempati urutan kedua tertinggi angka stunting di Indonesia. Dibawah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mencapai mencapai 48,01%.

Dari data BKKBN Perwakilan Provinsi Sulbar, sampai 20 Desember 2018 empat kabupaten Di Sulbar menjadi wilayah kasus stunting, yakni Polman dengan tujuh Desa, yakni Desa Puccadi, Desa Luyo (Campalagian), Desa Bala, Desa Lego (Balanipa), Desa Kurma, Desa Sattoko (Mapilli), dan Desa Kalumammang (Alu).

Di Kabupaten Mamuju juga ada tujuh Desa yakni, Desa Salutiwo, Desa Hinua, Desa Banuada (Bonehau), Desa Keang (Kalukku), Desa Labuang Rano, Desa Lebani dan Desa Pangasaan (Tapalang Barat).

Di Kabupaten Majene, hanya tiga Desa, yakni Desa Pamboborang (Banggae), Desa Bonde Utara, Desa Betteng dan Desa Pesuloang (Pamboang). Sedangkan Kabupaten Mamasa hanya satu Desa yaitu Desa Tadokalua (Tabang).

Andi Ritamariani mengatakan, program kampung KB dicanangkan dan diupayakan berada di wilayah stunting. Sehingga BKKBN dapat mengintegrasikan seluruh program-programnya.

Selain itu, kata Andi Ritamariani, upaya penurunan stunting juga harus di dukung oleh pemerintah Kabupaten. Ia memberikan contoh, di Kabupaten Majene, dua wilayah stunting di jadikan sebagai kampung KB dan anggaran tersebut dari APBD Kabupaten Majene.

“Saya yakin yang dua ini (wilayah kasus stunting) Mamuju dan Polman tentu juga seperti itu. Tapi yang saya liat betul itu adalah Majene,” bebernya.

Dalam kasus stunting ini, dirinya menjelaskan, salah satu yang menjadi kendala dalam penanganan stunting adalah kurang tenaga petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) utamanya di Kabupaten Polewali Mandar.

“Itu yang kurang di Polman. Kemarin  yang dialihkan masuk (PLKB) itu sebenarnya banyak, tapi mereka beralih ke Pemda. Akhirnya yang ada hanya 19 orang.”

Sementara dia (Polman) punya Desa 185, berarti satu PLKB rasio nya itu bisa sampai 8-9 Desa. Satu saja Desa kita bina, belum tentu berhasil apalagi kalau sudah sampai delapan, jelasnya.

Meski begitu, dirinya mengaku saat ini pemerintah daerah telah melakukan upaya dengan mengangkat PLKB. Dirinya pun berharap PLKB ini juga ada yang ditempatkan di kantor-kantor Camat.

“Jadi mudah-mudahan kita tunggulah di 2019. Dan untuk yang sementara tes ini  semoga lulus sampai akhir, insyaallah kita akan tempatkan di di Kabupaten Polman supaya bisa membantu,” ungkapnya.

Gejala Stunting

Dra. Hj. Andi Ritamariani, M.Pd menjelaskan salah satu gejala penyebab memicu terjadinya stunting pada anak adalah ketika lengan ibu hamil kurang dari 23,5 cm. Ia mengaku itu ia ketahui saat mengikuti sosialisasi terkait stunting.

“Sebenarnya saya tidak berwenang untuk memberikan penjelasan. Itu harus dari medis. Itu kita dapatkan saat sosialisasi. Jadi lengan yang mau hamil itu, 23,5 cm, dibawa itu gak bisa, Karena dianggap itu salah satu yang memicu stunting. Boleh tanya sama dokter,” katanya.

(Zulkifli)

banner 900x90
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.