Nyanyian Gadis Mandar  

Tidak ada komentar 243 views

Muhammad Asri Anas belajar membatik bersama sang anak. (Ist.)

*MUHAMMAD ASRI ANAS (Ketua DPW PAN Sulbar/Caleg DPR RI Partai PAN)

Sesibuk apa pun saya, bahkan ketika tugas makin menumpuk, saya tetap akan selalu meluangkan waktu untuk bersama anak. Saya paham benar bahwa anak-anak selalu punya hak atas waktu kita. Mereka berhak untuk menuntut kita agar meluangkan waktu untuk menemani mereka.

Biarpun anak-anak saya besar di Jakarta, tapi saya sangat ingin mereka menanamkan dalam dirinya bahwa mereka putra-putri tanah Mandar. Saya ingin mereka menjadi generasi Mandar yang menguasai sains dan teknologi, namun kaki mereka harus kuat mengakar dalam pelukan tradisi dan budaya.

Sebagai orang tua, tugas saya adalah menyiapkan semua hal yang mereka butuhkan, tapi saya berharap mereka tetap tidak kehilangan nilai dan tradisi. Di kampung halaman, mereka menyerap semua kearifan dan kebijaksanaan leluhur. Mereka bisa mengambil semua kebaikan dan pesan-pesan indah yang diwariskan leluhur sejak masa silam.

Di antara pesan indah dari rahim budaya kita adalah penghargaan pada perempuan. Kita sama tahu bahwa perempuan punya peran amat penting bagi kita. Bahkan satu-satunya pahlawan dari tanah Mandar yakni … adalah perempuan.

Ketika belajar di Fakultas Sastra Unhas, saya mendengar puisi indah dari penyair asal Madura, Zawawi Imron, berjudul Nyanyian Gadis Mandar. Saya suka paragraf awal puisi itu. Kalimat ini selalu bikin saya ingin pulang kampung.

“O, di jauh mana engkau berdebar

di laut apa peluhmu jadi garam?

Sebagai bukti kau anak Mandar.”

Dulu, saya selalu membayangkan puisi ini ketika bertemu ibu di kampung halaman. Kini, saya kembali mengenang puisi ini saat menemani anak perempuan saya. Pesan yang saya tangkap adalah sejauh apa pun seseorang berkelana, maka Mandar akan selalu jadi tempat kembali.

Tak sekadar menemani, saya pun selalu mengajak anak saya untuk pulang kampung. Saya ajak mereka untuk ke sawah dan merasakan langsung bagaimana bapak saya atau kakek mereka bekerja di situ. Saya ingin mereka bangga pada para petani yang telah membawa ayahnya sampai ke posisi sekarang.

Di Jakarta, anak saya sering bertanya, “Mengapa Bapak harus masuk politik?” Saya tak langsung menjawab. Ketika kami pulang kampung, barulah saya berikan jawabannya. “Biar kita bisa berbuat lebih untuk orang banyak di kampung kita. Biar kita bisa membuat banyak hal baik untuk orang-orang lain di sekitar kita.”

Semoga niat ini dimudahkan.

(*)

banner 900x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan Balasan