Nilai Tukar Petani Sulbar Naik 0,75 Persen

Tidak ada komentar 171 views

Win Rizal (kiri) saat rilis profil kemiskinan bulan September 2018 Sulbar, di kantor BPS.

Mamuju, Katinting.com –  Badan Pusat Statisktik  (BPS) Sulawesi Barat (Sulbar) kembali merilis data nilai tukar petani (NTP) bulan Januari 2019, Jumat (1/2) kemarin.

Dari lama resmi sulbar.bps.go.id,  NTP Sulbar pada bulan Januari sebesar, 110,60 atau naik 0,75 persen dibandingkan NTP Desember 2018.

Hal ini disebabkan perubahan indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,24 persen dan indeks yang dibayar petani juga mengalami kenaikan sebesar 0,49 persen. Berarti secara umum naiknya harga komoditi hasil pertanian dari bulan sebelumnya sejalan namun lebih cepat dibandingkan dengan naiknya harga barang-barang keperluan konsumsi dan produksi. Akibatnya, perbandingan antara indeks harga yang diterima dengan indeks harga yang dibayar petani cenderung lebih tinggi.

 Apabila diamati NTP menurut subsektor bulan Januari 2019, dibandingkan dengan NTP subsektor yang sama bulan sebelumnya.

 Tiga subsektor mengalami perubahan positif atau naik, yakni subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,13 persen, subsektor Hortikultura naik sebesar 0,67 persen, dan subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 1,87 persen. Sementara itu, subsektor peternakan turun sebesar 0,31 persen dan Subsektor Perikanan turun sebesar 0,16 persen.

NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani, NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Hasil pemantauan harga konsumen perdesaan menunjukkan terjadinya inflasi perdesaan di Sulbar pada Desember 2018 sebesar 0,48 persen, yang secara umum dipicu oleh seluruh indeks harga kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan.

Inflasi di daerah perdesaan terjadi di 25 provinsi di Indonesia, tertinggi di Kalimantan Selatan sebesar 1,02 persen dan Terendah di Yogyakarta sebesar 0,02 persen. Sedangkan delapan provinsi lainnya mengalami deflasi, tertinggi di Gorontalo sebesar 0,61 dan terendah di DKI Jakarta sebesar 0,05. Sulawesi Barat menempati urutan ke-15 dari 25 provinsi yang mengalami Inflasi perdesaan.

Sumber : BPS Sulbar

Edit :  Zulkifi

banner 900x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan Balasan