dprd sulawesi barat

Nadia, Polwan Yang Berbagi Pengalaman Mengajar di Pelosok Kalumpang

1566 views
banner 468x60

Nadia saat ikut program Mamuju mengajar di Kecamatan Kalumpang. (Ist)

Mamuju, Katinting.com – Kegiatan Mamuju Mengajar menginiasi pelaksanaan Sharing is caring, yang di laksanakan di Sekolah Dasar Desa Karama, Desa Polio, dan Desa Tumonga, Kecamatan Kalumpang.

Itu bukan penghalang untuk bisa mengejar cita-cita kalian. Karena dimana ada kemauan pasti ada jalan. Tetap optimis untuk meraih cita-cita kalian, buktikan kepada mereka yang tinggal diperkotaan, kami bisa menjadi seperti yang kami harapkan karena tekat usaha kami

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, dari tanggal 26 – 29 Januari 2018 tersebut. Selain mengajar, juga traveling, tebar buku nusantara, nonton film Inspirasi serta bakti sosial.

Diketahui, kegiatan Mamuju Mengajar ini diikuti oleh relawan-relawan dari beberapa bidang profesi seperti Dokter, Bidan, Perawat, Guru, Wartawan, Polisi, dan sejumlah Sarjana dari berbagai Kampus yang peduli terhadap dunia pendidikan anak, untuk memotivasi para penerus bangsa agar selalu bersemangat dalam menggapai cita-cita.

Bripda Nurnadia kelahiran Mambi, 06 Januari 1996, yang saat ini bertugas di Direktorat Lalu Lintas Polda Sulawesi Barat lulusan Brigadir Polwan Tahun 2014 tidak ingin ketinggalan mengikuti kegiatan “Sharing Is Caring”,  sebagai relawan bersama rekan-rekan polisinya yang lain untuk menginspirasi para siswa-siswi SD untuk terus bersemangat dalam menggapai impiannya.

Nadia bersama sejumlah siswa dan siswi pada program Mamuju mengajar di Kecamatan Kalumpang. (Ist)

Wanita yang akrab disapa Nadia, kepada Katinting.com bercerita pengalamannya, dimana dalam perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan kegiatan Mamuju Mengajar, bukanlah hal yang mudah untuk ditempuh. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ketempat tujuan dan menguras banyak tenaga.

“Perjalanan dari Kota Mamuju ke Kecamatan Kalumpang, menempuh waktu selama lima jam dengan memakai kendaraan roda empat. Sesampainya di Kalumpang, para relawan Mamuju Mengajar memakai kapal kecil (Katinting) selama kurang lebih 2 jam melewati sungai. Setibanya didarat, para relawanpun kembali melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki melewati gunung dan pemukiman masyarakat sekitar 2 Km. Untuk tiba di Desa karama, relawan kembali menaiki Katinting selama kurang lebih 30 menit,” terang Nadia.

Setelah sampai di Desa Karama pada pukul 18.45 Wita,(relawan meninggalkan kota Mamuju menuju Desa Karama pada Pukul 09.30 Wita). Lanjut Nadia menceritakan perjalanannya, pada malam harinya, Jum’at (26/1) para relawan melakukan pembagian kelompok, menjadi tiga kelompok untuk melaksanakan kegiatan Mamuju mengajar di Desa Karama, Desa Polio, dan Desa Tumonga.

“Saya masuk di kelompok tiga, tempat saya di Desa Polio SD. Rantetappa jarak dari Desa Karama 7 km, kami jalan kaki hampir 2 jam, tiba disana semua rasa lelah kami terbalaskan melihat semangat dan antusias anak-anak SD Rantetappa menyambut kedatagan kami,” tutur Nadia.

Sabtu pagi (27/1), Kelompok tiga melaksanakan Apel pagi bersama anak SD Rantetappa, pada pelaksanaan Apel pagi, diambil alih Bripda Nadia, Ia pun mengajarkan kepada siswa-siswi cara baris berbaris yang benar dan laporan apel pagi yag benar.

“Setelah apel, selanjutnya kami masuk dalam kelas melakukan perkenalan nama dan profesi kami kepada anak-anak, setelah perkenalan kami belajar bersama dan bermain games. Memberikan motivasi, menceritakan pengalaman – pengalaman dari profesi kami, anak-anak merasa bahagia dan antusias sekali dengan kedatangan kami,” ungkapnya.

Nadia (tengah) bersama rekannya saat menuju lokasi Mamuju Mengajar di Kecamatan Kalumpang. (Ist)

Ia juga berpesan kepada para siswa-siswi untuk terus bersemangat, untuk tidak putus asa mengejar cita-cita meski tinggal ditempat yang bisa dikatakan masih terisolasi dan sangat minim sarana dan prasarana.

“Pesan saya kepada anak-anak SD Rantetappa. Dek tetap semangat, berusaha dan berdoa untuk mengejar cita-cita kalian, jangan pernah berfikir kita tinggal dipelosok, yang jauh dari perkotaan, sangat susah untuk dijangkau, tak ada jaringan dan susah untuk mendapatkan. Itu bukan penghalang untuk bisa mengejar cita-cita kalian. Karena dimana ada kemauan pasti ada jalan. Tetap optimis untuk meraih cita-cita kalian, buktikan kepada mereka yang tinggal diperkotaan, kami bisa menjadi seperti yang kami harapkan karena tekat usaha kami,” pesan Nadia saat itu penuh semangat.

Bripda Nadia lahir dan besar di kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa 22 tahun yang lalu, Ia mengambil pesan seperti diatas karena tidak jauh dari pengalaman pribadinya.

Ia bercerita saat ingin mendaftar menjadi Polisi, akses jalan di Mambi menuju kota Mamasa, Polman dan Mamuju sangat susah, jalan yang penuh lumpur, dan jaringan telekomunikasi juga belum ada. Namun tekad dan semangatnya yang tinggi untuk untuk menggapai cita-cita menjadi seorang Polwan sangatlah besar. Ia juga bercerita pada saat pendaftaran Polisi, keluarganya sempat tidak setuju karena berasal dari keluarga yang kurang mampu, dengan pekerjaan orangtuanya sebagai penjual ikan kering di pasar Mambi, namun karena tekadnya semua itu bukanlah penghalang untuk mengejar mimpinya.

“Alhmdulillah banyak yang mendaftar dari Mambi, kakak satu-satunya perempuan yang pertama kali lulus menjadi seorang Polisi Wanita di Kecamatan Mambi. Alhamdulillah merupakan kebanggaan diri sendiri, kedua orang tua, keluarga, teman-teman, dan khususnya di Kecamatan Mambi,” Kata Nadia berbagi cerita dengan siswa-siswi SD Rantetappa Desa Polio, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju.

Nadia bersama sejumlah siswi pada program Mamuju mengajar di Kecamatan Kalumpang. (Ist)

(Zulkifli)

Pencarian Terkait

Ali Baal Masdar