banner 728x90

Meraba Kenormalan Baru

Tidak ada komentar 190 views
banner 728x90

Oleh: *Muh. Farrel Islam

(Mahasiswa Universitas Negeri Malang)

Awal kemunculannya di Wuhan, orang-orang mengira Covid-19 tidak akan menyebar keseluruh dunia. Ilmuwan memperkirakan virus ini tidak akan menjadi pademi yang menginfeksi banyak orang. Perkiraan ini didasari oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang sejak tahun 1970-an dianggap selalu berhasil memenangkan peperangan melawan virus. Akibatnya, saat virus ini menyebar ke seluruh belahan dunia, banyak negara yang tidak siap dan akhirnya kewalahan mengatasinya.

Di Indonesia, virus ini awalnya seperti tidak dianggap. Ada pejabat negara yang bergurau bahwa virus ini tidak bisa menginfeksi orang Indonesia, sebab suhu udara di Indonesia yang panas tidak memungkinkan  Covid-19 untuk hidup. Pejabat yang lainnya berkata bahwa orang Indonesia kebal terhadap Covid-19 karena setiap hari makan Nasi Kucing. Kelakar para pejabat negara ini seperti memperlihatkan keluguan kita terhadap Covid-19.

Saat Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi pada pertengahan Maret lalu, Ilmuwan di berbagai negara sudah berlomba-lomba menemukan vaksin untuk virus ini. Pada waktu yang bersamaan, netizen Indonesia sedang sibuk berdebat. “Mudik diperbolehkan atau  dilarang?”, dan “Apa perbedaan mudik dengan pulang kampung?”. Pertanyaan ini justru mendominasi percakapan publik daripada pertanyaan tentang protokol kesehatan.

Di sisi lain, kita dilanda krisis peralatan medis untuk diagnosa Covid-19. Bukan hanya itu, dokter dan perawat yang kekurangan alat pelindung diri juga menambah daftar inventaris masalah ditengah pandemi ini. Bahkan lebih parahnya lagi, ruang isolasi di rumah sakit sangat terbatas sehingga sebagian pasien COVID-19 harus dikarantina secara mandiri di rumahnya, beberapa diantaranya diisolasi di Puskesmas dengan fasilitas kesehatan yang terbatas.

Belum selesai dengan semua masalah-masalah yang esensial, kita kemudian dihadapkan dengan penerapan kenormalan baru (New Normal) yang segera di terapkan oleh pemerintah. Pada kenormalan baru ini nantinya, kita akan membutuhkan banyak inovasi di bidang kesehatan. Kita juga memerlukan kedisiplinan serta kolaborasi yang kuat antar warga negara. Tetapi yang terpenting adalah kepercayaan warga negara terhadap otoritas publik, para Ilmuwan dan dokter.

Peristiwa penolakan rapid test massal, pengambilan paksa mayat dalam status pasien dalam pengawasan dan beberapa pasien positif Covid-19 yang melarikan diri dari rumah sakit adalah contoh kasus yang menunjukkan distrust warga negara terhadap para dokter dan Ilmuwan. Selain akibat beredarnya informasi konspirasi dibalik pandemi ini, ketidakpercayaan warga negara terhadap dokter dan Ilmuwan ini kuat dipengaruhi oleh politisi yang terus mengeluarkan kebijakan kontroversional. Politisi semacam ini menggerus kepercayaan warga negara terhadap otoritas publik dan pelayanan kesehatan. Akhirnya semua peristiwa ini dibaca sebagai titik jenuh warga negara atas hilangnya kepercayaan pada politisi yang gagal meyakinkan warga negara tentang kemampuannya menangani pandemi.

Kebijakan lainnya yang cukup aneh adalah pembatasan sosial. Kebijakan ini tidak menghentikan laju penyebaran virus. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya angka kasus positif Covid-19 di daerah yang menerapkan pembatasan sosial secara ketat. Idealnya, jika pembatasan sosial secara ketat ini mampu menekan angka penularan, maka seharusnya kasus positif akan menurun dalam beberapa waktu setelah penerapan pembatasan sosial.

Untuk itu, kebijakan pembatasan sosial secara ketat seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Saatnya kita kembali pada cara-cara yang lebih sistematis dan terbuka, seperti penerapan kenormalan baru. Kebutuhan utama kita dalam menghadapi New Normal ini adalah komunikasi yang efektif-termasuk kejujuran tentang riwayat kesehatan dan kemampuan otoritas publik menjawab semua opini yang tidak berdasar di media sosial, kepercayaan terhadap otoritas publik dan ilmu pengetahuan serta komitmen kedisiplinan yang tinggi, menjadi kunci melawan pandemi.

Kepercayaan terhadap otoritas publik, dokter dan Ilmuwan akan membantu kita menghadapi pandemi ini dengan kepemimpinan terpercaya yang menjaga solidaritas warga negara agar tetap kuat dan mendorong kinerja petugas kesehatan agar lebih maksimal. Selain itu, keterbukaan informasi akan menuntun kita pada kesadaran sosial dalam menerapkan protokol kesehatan secara ketat, tanpa mengganggu aktivitas ekonomi terlalu dalam.

Pihak yang bertanggungjawab besar untuk membangun kembali trust publik adalah para politisi yang sejak awal menjadi dalang atas keruntuhan kepercayaan warga negara terhadap ilmu pengetahuan. Jika distrust warga negara terhadap ilmu pengetahuan dibiarkan berlarut-larut, ada kekhawatiran-saat vaksin ditemukan, vaksinasi di masa depan akan gagal.

Umat manusia di seluruh dunia sekarang ini seperti meraba dalam gelap untuk menerapkan skenario New Normal, sembari berharap menemukan sedikit cahaya untuk membawanya keluar dari kegelapan yang menyengsarakan banyak orang. Sebab kita tidak tahu, apakah kenormalan baru ini akan menjadi kenormalan permanen atau kita semua bisa kembali pada kehidupan normal yang sebelumnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan

Pencarian Terkait

banner 728x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Meraba Kenormalan Baru"