banner 728x90

Menunggu Penjor Berdiri Lagi

Tidak ada komentar 220 views

Penjor (Foto Abdul Hakim Madda)

Oleh: *Abdul Hakim Madda

Sebenarnya sudah terlambat, perayaannya sudah berjalan hampir seminggu yang lalu. Namun setiap kali melewati Perkampungan Bali di Desa Martajaya selalu pula muncul perasaan menyesal menyeruak dalam dada.

Mengapa begitu? Itu yang ingin ku ceritakan alasannya.

Setiap hari saya melewati perkampungan ini. Dari rumah ke Kantor. Dari Bambalamotu ke Pasangkayu. Menempuh empat puluh kilometer pergi pulang. Terkadang terasa melelahkan. Terkadang membosankan. Apalagi dengan pemandangan dan suasana yang itu-itu saja.

Sampai suatu ketika, semesta berkehendak tentang kehadiran puluhan hingga ratusan penjor. Penjor yang tiba-tiba berdiri kukuh dan indah di sepanjang jalan di Kampung Bali itu.

Kehadirannya memberi sesuatu yang berbeda. Rasanya, suasana sekonyong-konyong menjadi semarak. Menjadi meriah. Ibaratnya Martajaya sedang bersalin rupa. Mempercantik diri menyambut kedatangan tamunya.

Dan perjalanan pun tak lagi membosankan.

Sepanjang jalan meriah dengan penjor. Lengkung bambu tinggi yang di tancap di tepian jalan. Di hiasi oleh janur-janur dan di gantung berbagai persyaratannya. Ada hasil bumi, makanan atau sesajen lainnya. Semacam persembahan. Orang Bali menyebutnya, Canang.

Semakin jauh masuk ke perkampungan, semakin rapat jarak-jarak penjornya. Melengkung naik menggapai langit biru. Seperti penghubung antara langit dan bumi. Indah sekali.

Karena lama dan baru sempat diabadikan. Beberapa penjor terlihat sudah mengering. Walau sudah mengering, beberapa penjor itu masih terlihat indah. Malah daun janur yang kecoklatan karena mengering itu memiliki keidahan yang lain.

Sesungguhnya, kita bisa membedakan mana penjor dari daun janur asli dan mana yang buatan. Katanya, yang buatan lebih awet warna kuningnya. sedangkan yang asli akan mengering dan berubah kecoklatan seiring waktu. Tapi saat masih segar janur yang asli kuningnya seperti menyala. Seperti punya pamor.

Sementara janur buatan hanya akan menghadirkan warna kuning yang sama sepanjang waktu. Awetnya tidak berubah. Tapi pamornya tidak ada.

Setiap rumah memiliki penjor dengan hiasan yang beragam. Saya yakin hiasan itu bergantung pada kemampuan pemiliknya. Kalau janurnya banyak dan hiasannya meriah pasti pemiliknya dari kalangan keluarga berpunya. Begitu pula sebaliknya.
Sebagai pelintas, saya suka jahil dengan memilih dan menilai keindahan penjor-penjor itu. Dan pilihan saya kali ini jatuh pada sebuah penjor yang bentuknya unik. Janurnya di piling-piling kecil. Di anyam seperti sisik ular. Dari jauh mirip ular raksasa.

Saya memilihnya bukan karena cara kerjanya yang sukar dan perlu ketelitian ekstra. Tapi juga saya teringat pada mitologi Orang Bali tentang kisah Ular Naga Besuki yang di yakini sebagai Pembawa Kebaikan dan kesejahteraan. Sebuah filosofi yang dalam dengan bentuk penjor yang eye catching.

“Seandainya bisa, ingin rasanya kuubah waktu supaya setiap saat selalu Galungan. Setiap hari adalah Kuningan agar perjalanan ini selalu menyenangkan.” Begitu pikirku. Namun saya harus bersabar sampai dua ratus sepuluh hari lagi agar dapat melihat penjor-penjor baru berdiri kembali. Artinya, menunggu perayaan Galungan dan Kuningan berikutnya.

Jadi cukuplah yang ini saja. Walaupun sudah terlambat karena perayaannya telah berjalan hampir seminggu tanpa ucapan selamat sama sekali. Dan itulah mengapa saya sesali.

Saya tetap ingin mengucapkan “Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.” Kepada yang merayakannya. Semoga Semangat Naga Besuki selalu bersama anda semua. Terima kasih, sudah melepas rasa penat dan bosan saya selama perjalanan.

*Penulis adalah warga biasa yang menetap di Pasangkayu

Bagikan
banner 900x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Menunggu Penjor Berdiri Lagi"