banner 900x90

Menteri PPPA Ajak Kaum Akademisi Selamatkan Keluarga Rentan

85 views
banner 900x90

Pertemuan Reuni Senior Perempuan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. (Publikasi Kemen PPPA)

Salatiga, Katinting.com – Aktualisasi diri seorang perempuan bagi masyarakat tidak terlepas dari pola kehidupan sehari-hari yang dijalani di dalam keluarganya. Dalam meningkatkan ketahanan keluarga dan peran perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menggandeng Perguruan Tinggi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh keluarga, khususnya keluarga yang rentan.

“Bagi setiap individu, keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat serta tempat pertama dan utama. Pembagian peran dalam mempertahankan keutuhan keluarga, harus dilakukan secara sinergi yang berbasis pada kemitraan gender,” ujar Menteri PPPA, Yohana Yembise dalam Pertemuan Reuni Senior Perempuan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Dalam rilis kepada Katinting.com (Jumat, 3/8) menerangkan, bahwa pertahanan keluarga yang kurang baik seperti perceraian keluarga, kekerasan dalam rumah tangga akan berdampak buruk bagi proses tumbuh kembang anak. Sejak 2009 – 2016, kenaikan angka perceraian meningkat 16%-20%. Pada 2015 lalu, setiap satu jam terjadi 40 sidang perceraian atau sekitar 340.000 lebih gugatan cerai. “Ketika perceraian terjadi, anak terluka secara batin, merasa tidak aman dan seringkali tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orangtuanya. Keluarga rentan seperti inilah yang harus kita lindungi. ” Sambung Menteri Yohana.

Guna membantu masyarakat dan menyelamatkan keluarga rentan, Menteri Yohana mengajak kaum akademisi khususnya para mahasiswa untuk secara aktif, salah satunya dengan mengembangkan gagasan One Student Saves One Family (OSSOF). “Mahasiswa sebagai insan intelektual dapat berperan aktif membantu mencarikan akses bagi penyelesaian masalah yang dihadapi keluarga, serta mampu membuka akses pada berbagai sumber daya untuk menyelamatkan keluarga yang rentan,” Pungkas Menteri Yohana.

Gagasan OSSOF menjadi penting bukan hanya manfaat jangka pendek, namun juga secara jangka panjang. Para mahasiswa dapat mempelajari tahapan-tahapan untuk berperan aktif dan berkontribusi secara maksimal untuk membantu menyelesaikan masalah khususnya yang terkait dengan perempuan dan anak yang dihadapi oleh keluarga rentan.

Dalam pertemuan ini, turut juga diselenggarakan penganugerahan penghargaan yang terinspirasi dari 2 (dua) orang tokoh perempuan yaitu Marie Claire Barth-Frommel dan Lebrien A. Tamaela yang banyak berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan meningkatkan rasa cinta tanah air, bukan hanya bagi individu yang berada dalam organisasi GMKI, namun juga bagi masyarakat luas.

Menteri Yohana berharap GMKI sebagai bagian dari kaum intelektual bangsa ini dapat memberikan dukungan untuk pencapaian kesetaraan gender serta perlindungan dan pemenuhan hak anak, karena dengan menghargai perempuan serta memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak sama artinya dengan kita berinvestasi untuk masa depan bangsa.

(Rls/Anhar)

banner 900x90
Berita Sulbar
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.