banner 728x90

Mengenal Suku Padang

Tidak ada komentar 436 views
banner 728x90

Magfirah saat wawancara dengan tokoh masyarakat Syamsuddin. (Ist.)

*Oleh Magfirah A

Indonesia terdapat berbagai macam kebudayaan, suku-suku, adat istiadat maupun bahasa. Keberagaman itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal oleh mancanegara. Kekayaan alam yang melimpah dan serta pulau-pulau yang menarik untuk dikunjungi telah mampu menarik minat para pengunjung baik itu wisatawan lokal maupun asing.

Dari sekian banyak suku yang mendiami Indonesia, tersebut suku padang yang keberadaannya sangat jarang diketahuidan terekspos, kecuali kalangan suku padang itu sendiri yang berada di wilayah Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, lebih tepatnya di lingkungan So’do yang mayoritas berasal dari Suku Padang (Toraja).

Suku padang, hidup dalam lingkungan yang memiliki adat istiadat dan budaya yang kental dengan tradisi nenek moyang mereka. Salah satu tradisi dan adat istiadat yang masih diyakini sampai saat ini yakni kepercayaan terhadap hal-hal gaib yang menempati suatu tempat tertentu. Tradisi yang dimaksud  berdasarkan keterangan dari kepala RT  dan Syamsuddin selaku tokoh masyarakat di wilayah tersebut ialah.



Dijelaskan, dulu tradisi kami disini itu dilakukan ketika ada pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh tetangga ataupun orang yang masuk didaerah ini dan mendirikan sebuah bangunan, sebelum mendirikan, ia harus meminta izin (parapa’ dalam bahasa suku padang atau dalam bahasa mandarnya mappasa’bi) kepada penjaga tanah tersebut dengan memotongkan sapi bersama dengan ayam atau sejenisnya.

Lanjut, Dan tidak boleh memotong hanya sapi saja tetapi harus keduanya karena pasti akan menimbulkan sesuatu peristiwa yang tidak diduga. Contohnya, beberapa pekan yang lalu ada sebuah kejadian dimana bapak  Kapolda Sulbar sebelum pindah tugas, beliau ingin mendirikan bangunan disini dan memotong sapi saja tetapi tidak diperuntukkan untuk meminta izin kepada penjaga tanah disini (parapa’), akhirnya dua hari sesudah pemotongan sapi, istri pak Kapolda jatuh dan kakinya patah. Setelah kejadian itu pak Kapolda pun menyuruh anggotanya kembali memotong sapi, tetapi sebelum itu masyarakat disini menyampaikan kepada anggota pak Kapolda untuk memotong sapi bersama dengan ayam bukan sapi saja, tetapi hal itu tidak di indahkan oleh anggota pak Kapolda karena sepertinya ia tidak percaya, akhirnya beberapa hari kemudian ia meninggal karena mobilnya terjatuh dan terputar di wilayah ini. Wallahu a’lam.

Masih kata Pak RT, Dari kejadian itu, beberapa hari yang lalu, masyarakat disini bergotong royong untuk membeli ayam untuk memenuhi ritual tradisi itu sebelum anak-anak atau masyarakat disini menjadi korban. Sebenarnya banyak tradisi yang biasa dilaksanakan disini, cuman hal itu sudah ditinggalkan dan hanya di lakukan oleh beberapa orang saja. Contohnya pengobatan dengan menggunakan tepung beras yang terakhir dilakukan di tahun 2014. Dan tradisi yang sering dilaksanakan disini ialah tolak  bala setiap hari Jumat dalam peristiwa-peristiwa tertentu dan cuman di Masjid di daerah ini yang masih melakukan itu karena masjid yang lain seperti masjid Danga sudah tidak lagi melakukan itu.

Banyak hal yang menjadi teka-teki dan tanda tanya dalam pernyataan bapak RT tersebut. Karena sebagian orang akan beranggapan bahwa hal itu adalah sebuah mitos belaka. Tetapi tidak bisa  dipungkiri hal itulah yang menjadi tradisi mereka yang perlu dihargai dan dilindungi secara bersama.

Selain dari tradisi dan adat istiadat masyarakat Suku Padang, ternyata mempunyai beberapa kerajinan tangan yang masih ada dan dibuat sesuai dengan keperluannya. Seperti ayaman dari daun kelapa (kalamboti) yang mempunyai banyak fungsi bukan hanya digunakan sebagai  wadah untuk menampung benda-benda atau buah-buahan seperti langsat dan  sebagainya, tetapi juga bisa digunakan sebagai tempat pengeraman induk ayam yang ingin bertelur serta pandai besi (mattampa’ dalam bahasa suku padang) untuk membuat parang dan sejenisnya.

Perilaku yang menjadi tradisi masyarakat suku padang tidak diketahui oleh banyak orang, sehingga tradisi tersebut semakin hari semakin terkikis oleh perkembangan zaman. Hanya segilintir orang yang tahu dan mengerti apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu, memiliki budaya, tradisi adat istiadat menjadi sebuah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa. kita hanya dituntut untuk saling mengetahui, memahami dan menjaga serta melestarikan tradisi dari bangsa ini.

~~~

*Penulis adalah Kader PMII Cabang Majene dan tulisan ini hasil observasi sebagai rangkaian dalam pelatihan jurnalistik dan propaganda media yang dilaksanakan PMI Cabang Mamuju, 19-22 Maret 2020 di Villa Sapota.

Magfirah A

Bagikan

Pencarian Terkait

banner 728x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Mengenal Suku Padang"