Menelusuri Sungai Purba Karama

425 views

Ekspedisi Tanalotong Memanggil 2

Bagian Satu

*Oleh : Muhaimin Faisal

Paling depan Muhaimin Faisal saat naik perahu katinting menyusuri sungai. (Ft: Istimewa)

Ada getar  energi nenek moyang penutur Austronesia ketika kami menyusuri sungai yang dahulu menjadi tempat para leluhur berlalu lalang.

Apa yang terjadi ketika ketulusan saling bertemu? Ternyata, ia bisa melebihi bahagia karena bahagia masih terikat oleh ruang dan waktu. Bahagia hanya efek yang banyak dicari dan dikejar orang padahal bahagia laksana bianglala senantiasa berada di atas kepala orang lain.

Sabtu, siang 24 September 2017 matahari sedang berada di puncak ketulusannya menyinari bumi harus tulus kehilangan panasnya karena angin berhembus tulus menerpa tubuh-tubuh yang juga tulus duduk di bak belakang mobil grand maks open cup yang dikemudikan Firkah dari kota Mamuju menuju Pedasi Kalonding. Sebuah kampung kecil di Kecamatan Sampaga (dahulu Desa Sampaga) yang hidup kembali setelah melewati masa sekarat, meskipun dahulu pernah mencapai kebesaran sejarahnya sendiri.

Dimasa lampau Desa Sampaga yang terletak di tepian muara sungai Karama telah menjadi dermaga bagi perahu para pedagang dan perahu yang mengantar penumpang menuju ke wilayah pedalaman Kalumpang. Di wilayah Sampaga inilah di tahun 1933, arkeolog Belanda, A.A. Cense dan P.V. van Stein Callenfels menemukan kapak batu yang berbentuk oval, tembikar dan sebuah patung Buddha berbahan perunggu yang kemudian dikenal dengan nama patung Sikendeng.

Dr. F.D.K. Bosch membandingkannya dengan patung-patung Buddha yang ada di Borobudur dan Palembang, disimpulkan bahwa gaya patung Sikendeng memiliki ciri khas sebagaimana mantel biarawan sanghati yang berlipat-lipat dilukiskan. Lipatan terjadi karena kain penutup bahu kiri ditarik keras, menimbulkan jalur-jalur dangkal pada kain tersebut. Tubuh ramping wanita, raut muka bulat, leher berisi, mulut kecil bibir tebal.

Dibandingkan dengan gaya dan bentuk patung perunggu Buddha lainnya seperti dari Solok Jambi, Kotabangun Kalimantan Barat dan patung dari Gunung Lawu Jawa Hindu, kelihatannya tidak mempunyai kesamaan. Kelihatannya patung itu dipengaruhi oleh gaya Buddha Greeco dari India Selatan. Di Amarawaty India Selatan pernah ada tradisi pembuatan patung yang mirip dengan gaya patung yang ditemukan di Sikendeng. Patung Sikendeng ini juga dikenal dengan sebutan patung Amarawaty, patung tertua diantara 141 ribu koleksi patung Museum Nasional Indonesia yang diperkirakan berasal darti abad ke 2 Masehi.

Dari kampung kecil inilah juga dengan perahu kecil kami, Uun, Ulla dan Upi, mulai menelusuri kembali sungai purba Karama. Sungai yang sejak ribuan tahun lalu menjadi jalur utama manusia austronesia. Sebagai urat nadi interaksi ekonomi, politik, budaya dan agama dengan tapak-tapak sejarah yang begitu kuat dan mendalam, kini tak lagi mendapatkan pemuliaan oleh manusia-manusia merasa modern dan menjadikan artefak sebatas “ampas” kejayaan masa lalu yang hanya indah untuk dikenang. Padahal, seperti yang berulang kali diucapkan seorang kawan Zulkifli Pagessa yang akrab disapa Uun, “kita bisa menjadi modern dengan tradisi kita sendiri”. Keunggulan komparatif leluhur seharusnya bisa menginspirasi.

Sekitar pukul 12.30 Wita. Sudirman seorang motoris yang ramah dan tenang memandu kami memulai petualangan. Kawanan burung walet dengan kepakan sayap seirama terbang rendah dan saling bertukar posisi, sesekali berselancar di air sungai Karama, mengitari perahu beberapa menit seakan mengucapkan selamat datang. Pemandangan ini tidak begitu mengherankan karena ternyata disekitar lokasi ada Goa Telo-Telo, bahasa lokal untuk menyebut walet.

Menyaksikan burung terbang bebas membuat orang merasa rileks dan terhubung dengan alam yang memainkan peran penting dalam menurunkan tingkat stres dan kecemasan seseorang, ini menjadi cara terbaik untuk meremajakan tubuh, demikian hasil riset Daniel Cox.

Belum lama perahu melaju, kami disuguhi pemandangan unik, ada air dari bebatuan menetes melewati akar pohon menjuntai ke sungai. Itumi Tene Baine, Sudirman mengarahkan telunjuk sambil menceritakan bahwa dahulu tempat itu sangat populer, Tene Baine artinya kencing perempuan, dahulu kadang jadi tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalumpang, juga sering menjadi tempat rekreasi anak sekolah menjelang waktu libur.

Tene Baine inilah lokasi legenda seorang bidadari tak dapat kembali ke kahyangan karena terjebak dalam pesona seorang Tobara’. Mandi di Tene Baine bagi penduduk setempat  diyakini mempermudah mendapatkan jodoh, apalagi kalau dilakukan pada hari Jumat, seperti cerita Rahmat Idrus, Ketua Komisi Informasi Sulawesi Barat yang masa kecilnya dihabiskan di sekitar lokasi.

Rasa takjub dan decak kagum berpetualang dengan perahu kecil melaju di atas sungai yang tenang dengan rimbunan pepohonan dalam arak-arakan awan putih menggelantung di langit biru. Ada getar  energi nenek moyang penutur Austronesia ketika kami menyusuri sungai yang dahulu menjadi tempat para leluhur berlalu lalang. Pasir putih, terkadang onggokan material pasir campur batu dalam jumlah melimpah di sisi kanan atau kiri, melewati ladang persawahan, kebun cacao, jagung dan juga kelapa sawit. Anak-anak pak tani melambaikan tangan dari tepian tidak jauh dari rumah-rumah kebun tempat mereka berjaga-jaga bertarung melawan monyet, babi dan binatang lain yang mengancam tanaman. Bersambung. (*)

Pencarian Terkait

Ali Baal Masdar