banner 728x90

Memaknai Hikmah Nuzul Quran

Tidak ada komentar 140 views
banner 728x90

Oleh : *Amiruddin,S.Pdi

(Bagian Pertama)

Salah satu Kemuliaan Ramadhan, oleh karena didalam Ramadhan itu adalah waktu diturunkannya Al-Quran. Peristiwa turunnya Al-Quran adalah peristiwa yang luar biasa dan dijadikan sebagai momen bersejarah dalam perjalanan hidup manusia.

Turunnya Al-Quran pada bulan Ramadhan sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 185.

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa diantara kamu ada dibulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa) Maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari hari yang lain, Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupi bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-petunjuknya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS.AL-Baqara (2);185)

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar,M.A ( Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta) dalam hikmah Nuzul Quran, memberikan pertanyaan sebagai suatu ilustrasi, Untuk Apa Wahyu Allah berupa Al-Qur’an diturunkan dari langit ke Bumi?

Al-Qur’an turun dari langit ke bumi guna memungut manusia yang jatuh kebumi untuk dikembalikan ke langit. Oleh karena pembumian Al-Qur’an harus mempu melangitkan manusia. Karena pembumian Al-Qur’an akan mampu mengangkat martabat kemanusiaan.

Dalam konteks masyarakat modern teks ajaran dan kehidupan masyarakat diharapkan beriringan dan tidak ada jarak antara keduanya, teks ini jangan dikesankan terlalu dogmatis, Normatif, deduktif, kuantitatif, konservatif, tradisional,dan berorientasi masa lampau.

Oleh karena ditengah kehidupan yang sedemikian pragmatis, rasional, bahkan liberal, induktif, kualitatif, modern, canggih, dan berorientasi masa depan. Bahkan terkadang kondisi kebatinan manusia modern tidak sesuai dengan suasana kantor, pasar atau tempat kerja lainnya.

Situasi ini kemudian menimbulkan kesan bahwa agama tidak mampu memberikan tuntunan, bahkan yang paling parah kita menimbulkan kesan keterbelahan kepribadian atau split personality dikalangan umat yang sulit dihindari.

Imam Besar Masjid Istiqlal ini juga memberikan suatu fakta sosial ditengah masyarakat yang kontradiktif, contohnya seseorang yang ahli ibadah, rajin, alim pada satu sisi, tapi disisi lain mengambil hak orang lain.

Padahal kesalehan Individu harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial.

Dan yang paling parah ketika fenomena sosial seperti ini dianggap sesuatu hal yang biasa, maka disinilah perlunya melakukan pembumian Al-Qur’an untuk memberikan solusi dari fenomena sosial yang terjadi. (*)

Bagikan
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Memaknai Hikmah Nuzul Quran"