banner 728x90

Marano “Negeri Diatas Awan” Potensi yang Diabaikan

Pengunjung menikmati negeri diatas Awan Bukit Marano. (Dok. Abdi Latief)

Mamuju, Katinting.com – Beberapa bulan belakangan ini, kawasan wilayah transmigrasi Marano, UPTD Sinyonyoi, Kelurahan Sinyonyoi Selatan, Kecamatan Kalukku, Mamuju ramai dikunjungi, karena keindahan alamnya bak ‘negeri diatas awan’ sehingga menjadi tempat berwisata diakhir pekan.

Selain menawarkan keindahan alam ditambah lagi dengan kondisi daerah yang masih sangat asri dan jauh dari polusi, Marano juga tenyata berpotensi sebagai daerah agro wisata.  Jika ke Marano anda akan mendapati tanaman seperti stroberi, alpukat, jambu, markisa, jeruk dan durian. Dimana beberapa tanaman tersebut tidak ditemui di deaerah lainnya di Kabupaten Mamuju.



Hanya saja, daerah yang dihuni masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia belum mendapat perhatian serius dari pemerintah utamanya akses jalan menuju daerah tersebut. Apalagi hanya berkisar 10 kilo meter dari jalan trans Sulawesi atau sekira 40 kilometer dari pusat pemerintah Kabupaten Mamuju dan Pemeritah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Salah seorang warga Mamuju, Ari yang berkunjung pada Minggu (22/12) kemarin, melihat Marano   sangat berpotensi daerah agrowisata sebab kaya akan potensi pertanian dan perkebunan. Demisioner pengurus Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (Popmasepi) ini berharap pemerintah betul-betul memperhatikan wilayah tersebut karena sangat pantas dijadikan desa percontohan wisata ataupun agro wisata.

Masyarakat menujukkan hasil pertaniannya. (Dok. Hablu)

“Karena Marano ini merupakan tempat berpotensi akan agrowisata. Jadi semoga pemerintah bisa melihat lokasi ini. Ini juga merupakan tempat yang dekat dari Kota Kabupaten Mamuju. Kami sebagai pengujung melihat Marano secara ekspektasi itu sangat-sangat luar biasa. Lagi-lagi saya katakan bahwa sentuhan pemerintah sangat diharapkan,” katanya.

Tepat pada Tangga 22 Desember 2019,  kawasan transmigras Marano memasuki usia ke 10 tahun. Memperingati itu, beberapa pemuda yang menamakan diri ‘Pemerhati Marano’ menggelar kegiatan yang diberi nama ‘Temu Komuntas’. Dalam kegiatan tersebut, ada berbagai macam agenda kegiatan yang dilakukan seperti berbagi Inspirasi kepada anak-anak sekolah, pemutaran film dokumenter Marano, bincang komunitas dan bakti sosial.

“Harapannya dengan kehadiran reman-teman disini publikasi juga akan semakin banyak dan Marano akan semakin mendapat perhatian lebih (dari Pemerintah). Karena memang selama kurun waktu 10 tahun ini bisa dibilang, saya mengutip kata masyarakat bahwa ‘marano itu di anak tirikan oleh pemerintah’,” kata Nanna Sarliana, salah seorang panitia dalam kegiatan tersebut.

Pekarangan rumah penuhi tumbuhan liar karana ditinggal pemiliknya. (Dok. Abdi Latief)

Nanna, sapaan akrabnya menuturkan, pada awalnya Marano dihinu sebanyak 250 KK. Namun seiring berjalannya waktu, karena kurangnya perhatian pemerintah kepada daerah tersebut, Marano kini hanya dihuni sebanyak 40 KK.

“Sebenarnya untuk bincang komunitas itu kita mau refleksi sejarah Marano itu seperti apa, mumpung ada teman-teman dari luar datang. Kita perlu untuk Share itu. Selanjutnya kita memberikan masukan-masukan kira-kira Marano ini butuh apa atau maudiapakan ini Marano dengan segala potensi yang ada,” jelasnya.

“Harapannya hari ini ada pejabat pemerintah yang datang agar apa yang dibincangkan dari temu komunitas ini ada rekomendasi-rekomendasi agat ditindaklanjuti.  Tapi sepertinya pemerintah tidak datang. Jadi kita akan coba sedikit demi sedikit mengadvokasi,”  tambahnya.

Ahmad Hidayatullah (54) salah seorang warga transmigrasi dari Bandung, Jawa Barat mengaku sangat senang, dengan adanya kegiatan tersebut. Sebab, kata dia selama 10 tahun di Desa Marano baru kali ini ramai dikunjungi. Dia juga berharap dengan adanya kegiatan tersebut masyarakat Marano mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

“Kalau saya kepada pemerintah kalau ngasih bantuan harus tepat sasaran, kami diperhatikan betul-betul bukan sekedar ajang bisnis saja, maksudnya harus sesuai dengan jumlah dan juknis supaya mereka merasa puas. Kalau secara umum puas, kalau secara pribadi ya masih belum. Karena selama 10 tahun kami disini, jalan yang lumayan bagus baru sekarang. Kalau dulu seperti sungai kering,” ungkapnya.

Ditanya terkait potensi pertanian dan perkebunan, Ahmad yang juga  sekretaris Koordinator Administrasi Desa (KAD) berujar, sebenarnya hal tersebut telah lama dilakoni warga. Hanya saja baru kali ini baru dikenal oleh masyarakat luar.

“Agrowisata itu dari dulu sebenarnya cuma belum dikenal, nanti akhir-akhir ini terkenal. Setelah orang-orang ramai datang kesini yang mau lihat negeri diatas awan itu,” tutup Ahmad Hidayatullah.

Pemutaran film dokumenter di Hari Jadi ke 10 Tahun Marano. (Dok. Nasrullah)

(Zulkifli)

Bagikan

Pencarian Terkait

banner 900x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Marano “Negeri Diatas Awan” Potensi yang Diabaikan"