banner 900x90

Link dan Match Lewat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi

32 views
banner 900x90

Mohammad Rudy Salahuddin, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan UMKM Berdialog Bersama Kepala Sekolah Vokasi Kopi dan Mitra Swasta. (Foto : Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian)

Manado, Katinting.com – Pemerintah terus memfokuskan pembangunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai salah satu bagian dari Kebijakan Pemerataan Ekonomi.

“Saat ini kita tengah memasuki industri 4.0 dan membutuhkan SDM yang unggul dan handal sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Industri (DUDI). Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan vokasi penting untuk dilaksanakan,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Rudy Salahuddin dalam talkshow “Vokasi untuk Menciptakan Tenaga Kerja Berkualitas”, Sabtu (27/10) di Manado, Sulawesi Utara.

Kemudian, tambah Rudy, salah satu langkah konkret yang dilakukan oleh pemerintah ialah dengan disusunnya Roadmap Pendidikan dan Pelatihan Vokasi 2017-2025. Dalam roadmap tersebut terdapat 4 (empat) fokus kebijakan. Pertama, dengan mendorong pemenuhan tenaga kerja untuk 6 (enam) sektor prioritas.

“Dalam upaya menyiapkan tenaga kerja untuk produk-produk unggulan yang mempunyai nilai tambah tinggi dan kebutuhan permintaan global, pengembangan kerjasama pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia dapat difokuskan pada 6 (enam) sektor motor ekonomi Indonesia yaitu agribisnis, pariwisata, e-commerce, manufaktur, healthcare, dan ekspor tenaga kerja,” terang Rudy.

Kedua, dengan mendorong pemenuhan tenaga kerja untuk program prioritas pemerintah. “Pemenuhan tenaga kerja yang akan mendukung program prioritas pemerintah seperti program infrastruktur yang terdiri dari proyek strategis nasional dan proyek non strategis nasional, program pemerataan, dan program pengembangan kawasan,” kata Rudy.

Selain itu, yang ketiga adalah dengan fokus pada lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi. Misalnya, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk menyiapkan pendidikan tenaga kerja level 2 operator Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Lalu, politeknik untuk menyiapkan pendidikan tenaga kerja higher level thinking dan white collar job. Serta Balai Latihan Kerja (BLK) untuk menyiapkan pelatihan tenaga kerja bagi yang membutuhkan keterampilan jangka pendek serta upskilling dan reskilling untuk yang terkena dampak otomatisasi dan kritis ekonomi.

Fokus yang terakhir atau yang keempat adalah perbaikan fundamental pendidikan dan pelatihan vokasi yang terdiri dari memperbaiki lembaga pendidikan, meningkatkan standar kompetensi, meningkatkan kualitas pemagangan, meningkatkan sarana & pra sarana, meningkatkan pendanaan, dan meningkatkan koordinasi.

“Perbaikan fundamental mutlak diperlukan dalam pendidikan dan pelatihan vokasi sebab perbaikan tersebut dimulai dari lembaga pendidikan hingga meningkatkan koordinasi,” ungkap Rudy.

Pengembangan Pilot Project Kurikulum Kopi

Sebagai implementasi Roadmap Pendidikan dan Pelatihan Vokasi 2017-2025, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan pilot project pengembangan kurikulum yang link and match dengan DUDI. Pengembangan kurikulum jurusan kopi dipilih karena permintaan komoditas kopi dan industri kopi yang terus meningkat dan menjadi tren ke depan.

“Indonesia salah satu negara terbesar penghasil kopi, namun tidak memiliki pendidikan khusus terkait kopi. Pengembangan kurikulum kopi bertujuan untuk mengembangkan komoditas dan industri kopi di Indonesia, termasuk penyiapan dukungan SDM mulai dari hulu hingga ke hilir,” tutur Rudy.

Pada tahap awal sebagai pilot project dipilih SMK yang sudah memiliki kejuruan di bidang agribisnis dan perkebunan agar penyesuaian kurikulum dapat dilakukan dengan mudah. SMK PPN Tanjungsari berlokasi di daerah sekitar Bandung, sehingga sesuai dengan tujuan pengembangan kurikulum dari hulu (perkebunan) hingga ke hilir (industri kopi). Selain itu, dipilihnya SMK PPN Tanjungsari karena sudah memiliki kesiapan terkait guru dan sarana & prasarana, sehingga lebih tepat sebagai pilot project.

“Nantinya, siswa SMK yang masuk pada jurusan kopi akan menyelesaikan masa belajarnya selama 3 (tiga) tahun dan akan mendapatkan 6 (enam) sertifikasi kompetensi di bidang perkopian. Dengan adanya pilot project ini akan semakin terbukanya kesempatan bekerja pada perusahaan perkebunan kopi, coffee & roastery chain store, serta membuka kebun atau coffee & roastery store,” tegas Rudy.

Kurikulum SMK Jurusan Kopi terbagi menjadi 3 (tiga) tingkat yaitu: Pada kelas X, siswa SMK diharapkan mampu mempelajari dan menguasai 8 pengetahuan dan kemampuan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi dalam pembibitan dan budidaya tanaman kopi. Pada kelas XI, siswa SMK diharapkan mampu mempelajari dan menguasai 7 pengetahuan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi dalam pasca panen dan roasting. Pada kelas XII, siswa SMK diharapkan mampu mempelajari dan menguasai 12 pengetahuan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi dalam barista dan kewirausahaan.

Acara ini merupakan bagian dari partisipasi Kemenko Perekonomian dalam kegiatan tahunan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental (PKN-RM) 2018 yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 2018 di Manado, Sulawesi Utara. Rangkaian acara Kemenko Perekonomian dalam PKN RM 2018 ini bertemakan “Kemandirian Ekonomi untuk Indonesia Maju” yang meliputi Pameran Kebijakan Ekonomi, 1 talkshow utama, dan 5 talkshow tematik program Kemenko Perekonomian dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait. (ekon)

Sumber : Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

 

banner 900x90
Berita Sulbar
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.