banner 728x90

Lagi-Lagi Terorisme

Tidak ada komentar 211 views
banner 728x90

Anton Ranteallo

Oleh : *Anton Ranteallo, SS, M.Pd

(Anggota FKUB Kabupaten Mamuju)

Terorisme seakan tiada habisnya. Setiap saat mereka muncul membuat kegaduhan yang merugikan banyak pihak termasuk diri mereka sendiri. Muncul tanya dalam hati: Apa yang merasuki para teroris sehingga melakukan hal-hal yang tidak terpuji? Banyak fakta memperlihatkan peristiwa pembunuhan dan pengeboman orang tidak berdosa oleh para teroris yang menyebabkan keresahan dalam masyarakat. Aksi bom bunuh diri di Makassar (Minggu,28/3) dan di beberapa tempat dilihat sebagai tindakan teroris. Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar ini yang menyebabkan dua pelaku meninggal di tempat dan banyak orang luka-luka mengakibatkan trauma yang dalam.

Siapa itu teroris? Mereka adalah orang yang melakukan terror, menebar ketakutan bahkan pembunuhan kepada orang lain. Mereka tidak segan-segan melakukan intimidasi bahkan bunuh diri dengan cara memasang bom atau bahan peledak di tubuh dan bergerak ke obek yang disasar. Mereka tidak segan-segan meledakkan diri demi menjalankan dotrin yang sudah terpatri dalam diri mereka. Ironis memang. Fenomena bom bunuh diri ini sudah lama terjadi di nusantara ini bahkan seantero dunia. Semua orang tentu mengutuk keras aksi yang dilakukan para teroris ini.

Dalam persfektif agama tentu tidak ada ajaran agama yang menyetujui apalagi mengajarkan cara-cara seperti itu sehingga bila terjadi aksi teroris semua kalangan mengutuk dan mengecam tindakkan tak manusiawi itu. Namun kutukan demi kutukan selama ini seolah tidak ada arti bagi para terosisme. Kutukan tidak membuat teroris kapok mereka masih tetap melakukan aksinya sehingga kutukan tetaplah tinggal kutukan.

Kutukan tentu tidak menyelesaikan masalah, maka kita perlu berefleksi, apa yang harus dibuat mengatasi terorisme ini. Salah satunya hal yang mendasar adalah mendakwahkan kebaikan dan nilai-nilai kemanusiaan/kehidupan universal. Nilai-Nilai Kemanusiaan (human Values) merupakan nilai-nilai yang sifatnya universal dan dapat dikembangkan untuk membentuk karakter. Nilai-Nilai Kemanusiaan ini terdiri dari kebenaran, kebajikan, kedamaian, kasih sayang dan tanpa kekerasan, saling mencintai sesama manusia.  Nilai kemanusiaan lain yakni mengembangkan sikap tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, suka melakukan kegiatan kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan, saling menghormati satu sama lain.

Nilai-nilai tersebut sejatinya sudah diajarkan dalam setiap agama atau kepercayaan. Tak henti-hentinya didengungkan di rumah iadah melalui kotbah atau renungan hanya saja apakah para pendengarnya belum melakukan ajaran agama dengan baik dan benar. Mengapa semua ini terjadi? Mari kita berenung sejenak.

Kita harus saling menghargai karena kita semua berasal dari sumber atau asal yang sama yang kita sebut Tuhan. Konsekuensi logisnya kita tidak berhak mencederai orang lain apalagi membunuhnya dengan alasan apa pun juga. Hanya Tuhan yang berhak mengambil nyawa manusia. Tidak ada yang lain. Bila doktrin kita benar sesuai koridor agama (agama apa pun itu) maka kehidupan menjadi harmonis dan nyaman. Hidup menjadi rukun dan damai. Namun bila ada di antara kita yang hanya mementingkan diri sendiri merasa paling benar sendiri, paling suci, maka akan lahir doktrinisasi yang keliru yang membuat para pendengarya atau pengikutnya menjadi sesat.

Kesesatan ini membawa malataka bagi orang lain. Oleh karena itu, kita semua harus sadar akan hidup ini. Apa sebenarnya yang kita cara di dunia ini? Kekayaan, pangkat, jabatan, nama kesohor, prestise? Semua ini hanyalah bunga kehidupan profan yang malah terkadang membuat kita sombong dan bangga diri. Namun sejatinya semua kekayaan dunia ini yang mestinya menjadi instrument dalam melayani sesama demi mencapai kebahagiaan abadi, surga namanya. Karena semua itu tidak ada artinya di hadapan Tuhan bila tidak berguna bagi sesama. Karena kita adalah makhluk sosial sekaligus mahkluk religious yang membedakan dengan binatang. Dalam diri sesama hadirlah Tuhan. Jadi bila kita mencintai sesama otomatis kita telah mencitai Tuhan dan sebaliknya bila membenci sesama berarti juga membenci Tuhan.

Tuhan yang disembah dan puji hanya satu yang disebut pencipta hanya saja cara untuk menyembah-Nya berbeda setiap agama. Namun tujuan sama demi keselamatan kita. Sadar kita akan hal ini? Maka demi hilangnya benih-benih terorisme yang ada dalam masyarakat, kita perlu berpikir moderat, menjalankan agama sesuai ajaran, saling menjaga, menghormati, saling memanusiakan satu sama lain. Karena kemanusiaan di atas segala-galanya. Tidak ada artinya kita beriman-beragama bila tindakan kita jauh dari nilai-nilai keagamaan. Semoga!

(*)

Bagikan
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Lagi-Lagi Terorisme"