banner 900x90

Kunjungi Perusahaan Sawit, Ini Kata Gubernur Sulbar

354 views
banner 900x90

Gubernur Sulbar saat mengunjungi untuk melihat langsung aktivitas perusahaan sawit di Tommo. (Hms Pemprov Sulbar)

Mamuju, Katinting.com – Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar bersama Ketua TP PKK Sulbar, Andi Ruskati Ali Baal yang juga sebagai anggota Komisi VIII DPR RI melakukan kunjungan ke perusahaan sawit guna melihat langsung aktivitas perusahaan kelapa sawit yang ada di Sulbar. Minggu (15/4).

Diawali kunjungan di perusahaan Manakarra Unggul Lestari yang ada di Tommo, Mamuju, kemudian di PT. Surya Raya Letari 1, Sarudu, Pasangkayu.

Selanjutnya pada hari Senin, 16 April, direncanakan melakukan kunjungan ke CPO Bonemanjeng, PT. Ungggul WTL, kemudian dilanjutkan ke Pabrik Kelapa Sawit Agro Baras. Kemudian pada hari Selasa, 17 April direncanakan mengunjungi PT. Letawa dan PT. Tanjung Sarana Lestari.

Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kunjungan untuk melihat langsung aktivitas pabrik kelapa sawit yang sudah lama ia direncanakan. Hanya saja, menurutnya, karena banyaknya agenda kegiatan utamanya undangan dari Presiden Jokowi, yang mengundang Gubernur dan tidak dapat diwakilkan sehingga kunjungan tersebut baru bisa dilaksanakan.

“Setelah kunjungan semua dilaksanakan baru akan kita analisa dan akan melakukan pertemuan kembali dengan para direktur perusahaan sawit yang telah kita kunjungi, untuk membicarakan program apa saja dari pemerintah yang akan diberikan sebagai bentuk dukungan untuk pengembangan kedepan, demi peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan tentunya tidak terlepas dari kerjasama dan peran masyarakat yang ada di Tommo ini,” kata Ali Baal Masdar.

Saat berdialog dengan masyarakat juga mengharapkan agar masyarakat jangan hanya berdiam diri, akan tetapi kita munculkan kreasi, inovasi kita untuk kemajuan Sulbar.

“Untuk perempuan, juga harus ikut didalam pembangunan, kita ingat bahwa konsep orangtua kita dulu adalah Sibaliparri, yang dalam artian didalam pembangunan ada persamaan gender, dimana perempuan mempunyai hak yang sama dengan kaum laki- laki,” sebutnya.

Ali Baal kepada masyarakat menyampaikan untuk mengusulkan ke Telkom pembangunan tower sehingga akan memudahkan masyarakat berkomunikasi. Pada saat berdialog dengan mayarakat, beberapa dari masyarakat meminta pembangunan tower karena akses komunikasi belum mereka rasakan, karena tidak adanya signal. Selain tower, berbagai potensi lain juga sangat memungkinkan dikembangkan di areal tersebut, seperti pertanian dan dan perkebunan.

Perwakilan dari PT. Manakarra Unggul Lestari Sugito menyampaikan, proses perkebunan sawit di PT. Manakarra Unggul Lestari dinilai lamban sehingga masih ada tanaman sawit yang belum menghasilkan, dan pembangunan pabrik dimulai pada akhir tahun 2011 dan selesai akhir tahun 2013, sekaligus bermitra dengan masyarakat setempat.

Terkait produksi, masih dalam bentuk CPO dan Kernil, dan masih diangkut ke pelabuhan Bonemanjeng.

“Perusahaan ini belum mampu membangun  pelabuhan sendiri, dan ini menjadi beban, sehingga transportasinya menjadi agak mahal. Kami akan merencanakan tahun 2019, akan membangun pelabuhan di Belang- Belang, dan dengan demikian angkutan CPO dari pabrik ke pelabuhan akan menjadi lebih murah,“ jelas Sugito.

Kendala yang juga dihadapi karena letak lokasi perkebunan PT Manakarra Unggul Lestari jauh dari jalan poros, sehingga masalah-masalah pengangkutan logistik menjadi masalah yang agak berat.

“Mudah- mudahan ada program pemerintah bisa dikaitkan dengan program- program peningkatan jalan, sehingga bersambung dengan Mamuju Tengah agar pengangkutan logistik akan jauh lebih murah,“ harap Sugito.

PT. Manakarra Unggul Lestari mendapat ijin lokasi seluas 9.350 Hektar, dan sebagian besar masuk dalam kawasan hutan yaitu seluas 7.500 hektar, dan sisanya status APL sebesar 1.850 hektar, sehingga yang 7.500 hektar yang harus melalui proses pelepasan kawasan hutan. Pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2005, pemerintah menerapkan moratorium pelepasan kawasan hutan sehingga menunggu dikabulkan, dan di tahun 2006 PT. Manakarra Unggul Lestari mendapat pelepasan kawasan hutan yang seluas 7.500 hektar tersebut, meskipun sudah diolah oleh masyarakat sehingga melalui proses ganti rugi kepada masyarakat.

Pada kesempatan kunjungan tersebut, Andi Ruskati Ali Baal melakukan pengukuhan persatuan istri karyawan PT. Manakarra Unggul Lestari.

Dalam sambutannya, ia mengatakan sangat mendukung dengan terbentuknya persatuan istri pegawai PT. Manakarra Unggul Lestari, dimana hal ini akan bisa menjadi ajang untuk berdiskusi, bertukar pikiran untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat dan bisa menjadi jembatan dalam ikut andil pembangunan daerah, kata Ruskati.

Didalam keseharian, lanjutnya pastilah ada masalah yang timbul, dengan demikian disinilah peran penting organisasi persatuan istri pegawai PT. Manakarra Unggul Lestari bisa berkumpul bersilaturahim untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang ada.

Pada kesempatan itu, Gubernur Sulbar, Ali Baal menyempatkan diskusi dengan para petani yang ada di Tommo dan memberikan bantuan berupa mesin jahit kepada persatuan istri karyawan PT. Manakarra Unggul Laestari.

Dalam kunjungan Gubernur didampingi staf Ahli Gubernur Ibrahim, Asisten Dua Pemprov Sulbar Hamzah, dan beberapa pimpinan OPD.

(ADV/Humas/Ishak)

banner 900x90
Berita Sulbar
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.