banner 728x90

Jangan Ada Dikotomi, Pernyataan Balon Gubernur Sulbar Disesali Sejumlah Pihak

banner 728x90
Konfrensi Pers di Warkop

Konfrensi Pers di Warkop

Katinting.com, Mamuju – Terkait pernyataan salah satu Bakal Calon (Balon) Gubernur Sulawesi Barat di salah satu koran harian yang menyebutkan secara khusus salah satu etnis di Provinsi Sulawesi Barat untuk bersatu dan dianggap tidak ada kemajuan di Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah dan Mamuju Utara, sangat disesali dan disayangkan sejumlah pihak.

Menanggapi hal tersebut, dalam konfrensi pers yang dipandu Aditya Arie Yudhistira menuturkan bahwa semua mempunyai hak yang sama dengan suku-suku lain, jangan ada rasis.

“Itu pernyataan tidak bagus bagi perhelatan politik yang akan berlangsung, itu jangan ada lagi muncul. Kita Indonesia, jangan ada perbedaan. Sampaikanlah secara benar,” kata Aditya sebagai pemuda pancasila.

Sementara Suaib Kadis PU Mamuju, juga menjelaskan bahwa mandar itu dari Paku sampai Suremana, itu tidak membeda-bedakan dan kita baik-baik saja di Mamuju. “Pernyataan itu keliru, kalau ada yang bilang orang mandar kehidupannya biasa-biasa saja, itu tidak benar dan disini tidak ada yang membeda-bedakan,” tuturnya.

Sementara itu Fajar, menuturkan barang siapa yang telah meminum air sungai dari tanah mandar, maka dia orang mandar, meski tidak lahir di mandar.

“tidak perlu dibeda-bedakan, yang penting dia mampu dan mau bekerja, sangat keliru mengatakan kalau SDK bukan orang mandar, lalu dia orang apa, dia juga mandar. Jangan sampai dia tidak memahami Sipamandar, sikap saling menghargai, sebagaimana layaknya adik dan kakak, ucapnya.

Ridwan Hafid sebagai komunitas nelayan, menganggap bahwa dirinya selama di Mamuju cukup sejahtera disbanding waktu berdomisili di Polewali Mandar, “Bahkan dulu di Polman tidak ada lapangan kerja dan justru saya menjual mobil. Sekarang bisa beli mobil,” ucapnya.

Sambung Amriadi mengatakan, “Saya dari Polman tangan kosong, sejak bupati Almalik, SDK dan sekarang bisa maju, jadi kalau ada bilang biasa-biasa saja itu tidak benar, saya punya kapal 10 dan mobil. “Sekarang bisa dibilang kelas menengah keatas lah.”

Sedang Nehru Sagena Kepala Badan Ketahan Pangan dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Mamuju. Menuturkan dirinya yang baru 3 tahun di Mamuju dan 8 tahun berkarir di Polman tidak menemukan seperti apa yang didapatnya di Mamuju.

“Tanpa mengurangi rasa hormat saya ke ABM. Yang dimaksud dengan kehidupan biasa-biasa saja?. Kalau kacamata ukurannya jabatan dan ekonomi, secara pribadi saya sejak hijrah dari Polman saya mendapatkan kemerdekaan bisa membantu pemerintah dengan inovasi-inovasi. Punya penghasilan tambahan kalau, Alhamdulillah. Kalau di Mamuju sama seperti seorang pemain bola yang menemukan lapangan yang pas untuk main. Semoga dipahami, dan kita bisa tunjukkan itu malaqbi.” Terangnya.

Sementara Ayyup kepala BPKAD, menjelaskan, kalau kita bicara mandar saya agak takut karena mandar adalah satu kata dengan perbuatan. “Kalau saya dikasi pilihan, saya tidak ingin membeli kucing dalam karung. Saya liat dikoran hari ini bisa kita lihat kualitas pemimpin kita. Kita mundur kalau bicara suku, harusnya kita bisa liat kualitas dan SDK memiliki itu. Kita mau disini ada edukasi, tunjukkan malaqbi itu, tunjukkan kualitas itu,” sampainya.

Hatta Kainang ketua LBH Mamuju yang sarat pengalaman, juga sangat menyangkang pernyataan salah satu bakal calon gubernur Sulbar yang dianggap sangat berbahaya bagi perkembangan demokrasi yang ada di Mamuju.

“Pernyataan ABM itu memanasi situasi politik, karena langsung mengklaim mandar 60 persen secara kuantitas dan bukan kualitas. Dalam undang-undang ada disebutkan, tidak boleh mengaitkan persoalan ras dan etnik. Jadi kalau ada klaim seperti itu, bagaimana entitas yang lain diluar Sulbar, itu adalah ancaman, marihlah kita cerdas dalam berpolitik, cerdas memilih gagasan pemimpin, idenya dan mensejahterakan rakyat,” tutur Hatta Kainang.

Ini adalah cara-cara sempit, sambungnya, Sulbar ini Indonesia mini, kalau ada yang mematok soal etnik bahaya, sebutnya. (Anhar Toribaras)

 

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.