banner 728x90

Data SIPBM Gerakkan Hati Kades Dungkait Untuk Pendidikan

1111 views
banner 728x90
Data SIPBM Gerakkan Hati Kades Dungkait Untuk Pendidikan

Kepala Desa Dungkait mengantar anak ke sekolah

Katinting.com, Mamuju – Tak banyak yang tahu persis berapa jumlah anak yang tidak mendapatkan pendidikan formal. Padahal, pendidikan yang layak, merupakan hak setiap anak. Data, adalah salah satu akses untuk mengetahui apakah hak anak telah terpenuhi atau belum. Di Mamuju, telah ada data hasil Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM), dimana data tersebut menyajikan data mikro sebagai penunjang data-data makro yang telah ada.

Kepala Desa Dungkait, Maskur Rahman, memanfaatkan data yang tersaji pada SIPBM. Setelah melihat data kondisi anak-anak didesanya, Ia segera mengambil tindakan.

Langkah pertama, pada hari Senin, 8 Februari 2016, Maskur memberi bantuan kepada 10 anak kurang mampu. Bantuan tersebut berupa pakaian seragam sekolah, tas, sepatu dan alat tulis yang di peroleh dari Alokasi Dana Desa (ADD) Desa Dungkait. Meski penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPD) belum dilakukan, Maskur berinisiatf untuk bertindak lebih cepat.

“Sebenarnya belum dilakukan penyusunan RKPD, tapi tindakan ini merupakan inisiatif kami di pemerintahan desa untuk segera memberikan bantuan kepada anak kurang mampu, dan selanjutnya ini akan dimasukkan di RKPD kami,” sebut Maskur.

3 dari 10 anak yang menerima bantuan tersebut merupakan anak tidak sekolah yang berhasil dimasukkan ke Sekolah Dasar (SD). 1 anak dimasukkan ke SD Negeri Dungkait lalu 2 orang lainnya dimasukkan ke SD Negeri Tanjung Ngalo’ pada hari Selasa, 9 Februari 2016.

Selain 3 anak tersebut, masih ada anak tidak sekolah yang di ajak oleh Pemerintah Desa untuk ikut bersekolah, hanya saja, anak tersebut belum mau. Namun, Maskur mengakui akan terus berusaha untuk memberikan hak pendidikan kepada anak di desanya.

“Ada juga anak tidak sekolah yang kami kunjungi, kami ajak untuk bersekolah, tapi anaknya tidak mau, kami sudah membujuk dengan banyak cara, tapi tetap tidak mau, jadi kami putuskan untuk tidak memaksa, dan lain waktu kami akan kembali mengajak anak itu,” urai Maskur.

Dengan begitu, Maskur berharap ada gerakan kecil dari pihak lain untuk bersama-sama memenuhi kebutuhan anak utamanya dalam hal pendidikan. (Dian HL)

Bagikan
Tidak ada Respon

Komentar ditutup.