banner 728x90

Caleg DPR RI Ngapain ke Senayan

Tidak ada komentar 441 views
banner 728x90

Empat Caleg DPR RI menjadi narasumber di diskusi publik The 16 Millenial. (Foto Zulkifli)

Mamuju, Katinting.com – The 16 Millenial kembali menggelar diskusi publik dengan tagline “Layak Jki Ka?” part II, yang menghadirikan empat narasumber calon legislatif DPR RI daerah pemilihan Provinsi Sulawesi Barat diantaranya, H. Suhdardi Duka (Demoktrat), Salim S Mengga (Nasdem), Muhaimin Faizal (PAN), dan Arsyad Idrus (Golkar), di Foodcourt Arena Cafe, Sabtu (22/2) malam.

Adapun yang menjadi tema dalam diskusi publik ini yang dipandu oleh Syarifuddin Mandegar, sebagai moderator yaitu “Ngapain ke Senayan?”

Suhardi Duka yang menjadi narasumber pertama yang mengatakan, tidak lain adalah komitmen mengabdikan diri untuk Sulbar.

“Bagaimana kita menjamin kesejahteraan masyarakat (Hak-hak ekonominya) dengan menguasai dan memanfaatkan milik negara, sumber ekonomi negara dengan secara adil, tidak membedakan antara satu dengan yang lain. itu pendekatan kesejahteraan,” katanya.

Selain itu, mantan Bupati Mamuju dua periode ini juga menyadari betul citra DPR RI dimata publik. Yang mana, masih berada pada titik nadi yang rendah, belum menjadi tempat publik untuk menggantungkan nasib dan harapannya. Bahkan DPR RI masih tercitra sebagai tempatnya orang-orang korupsi, melakukan penyimpangan-penyimpangan hukum dan mementingkan dirinya sendiri. Melihat hal tersebut, ia menganggap itu adalah sebuah tantangan tersendiri untuk dirinya.

“Alhamdulillah saya di Mamuju, citra saya masih baik. Sehingga demikian saya kesana tidak ingin mencederai citra diri saya yang baik di Mamuju. Saya kesana tidak lain adalah komitmen untuk sebuah pengabdian. Saya ingin mengabdi untuk publik di Sulbar dari Paku sampai Suremana dan di timur adalah Mamasa,” ungkapnya.

“Tapi tentu kita tidak seperti Gubernur atau Bupati yang akan merangkapi semua kebutuhan masyarakat karena DPR sangat terbatas fungsinnya. Legislasi, Budget (anggaran) dan kontrol,” tambahnya.

Sehinggga dengan tiga fungsi tersebut, dirinya ingin memanfaatkan betul fungsi tersebut untuk pembangunan di Sulbar, jika nantinya ia terpilih menjadi anggota DPR RI pada 17 April mendatang.

Salim S Mengga, yang menjadi narasumber kedua mengaku sudah faham betul tentang konsekuensi yang harus ditanggung ketika DPR RI. Sebab dirinya delapan tahun menjadi anggota DPR RI. Ia bercerita, selama manjadi anggota DPR RI dirinya tiga kali dipindah komisi. Itu dikarenakan ia berpegang teguh dengan yang namanya politik kepercayaan.

“Politik bertujuan untuk terwujudnya kondisi sosial yang baik dan berkeadilan. Politik seperti ini itu sangat tergantung pada nilai. Kedua ideologi dan ketiga kondisi. Karena itulah politik yang saya bangun adalah politik kepercayaan. Bagaimana membangun kepercayaan masyarakat. karena tanpa kepercayaan politisi hanya seperti lilin, menyalah sejenak, ia bersinar, setelah habis diapun habis. Tetapi seperti yang saya bangun ini, sulit sekali untuk bisa diterima orang terutama dilembaga legisltaif,” katanya.

“Selama di DPR RI saya tiga kali dilempar kiri kanan. pertama saya dikomisi satu, dilempar ke komisi dua. di komisi dua ada persoalan E-KTP, saya dilempar lagi ke komisi tiga, selesai E-KTP saya dikembalikan lagi ke komisi dua,” akunya.

Ia juga menjelaskan bahwa tidak semua orang yang ada di DPR RI itu buruk. Masih ada yang berpegang kepada nilai. Akan tetapi orang-orang tersebut tersisihkan, menjadi tidak populer karena dianggap tidak bisa diajak kerja sama dan tidak bisa mengerti situasi. Olehnya itu ia berpesan kepada caleg yang maju untuk memiliki kekuatan atau Istiqomah, “Anda mau buat saya seperti apa, silahkan saya tetap akan berada pada jalan lurus saya,” sebutnya.

Mantan Anggota DPR RI ini juga berharap, semoga orang yang terpilih adalah mereka yang punya kapasitas, berintegritas dan peduli kepada rakyat. Sebab, di DPR RI hanya empat kursi untuk dapil Sulbar.

“Kan memprihantikan sudah punya kursi cuma empat, kualitasnya pun tidak ada apa-apa. Itu yang menjadikan saya dan mengapa saya masih maju, saya menunggu generasi yang lebih mudah lebih berkualitas. Kasi mereka kesempatan jangan kita tutup meraka, jadi siapapun yang nantinya terpilh tolong bekerjalah secara maksimal, kemudian berjuanglah untuk rakyat mu,” tuturnya.

Masih ditempat yang sama, Muhaimin Faizal yang menjadi pembica ketiga mangatakan, bagus dirinya DPR RI itu hanya terminal saja. Sebab menurutnya tak jadi anggota DPR RI pun ia bisa berbuat sesuatu untuk ikut dalam membangun Sulbar. Namun karena DPR RI yang mempunyai fungsinya menyusun legislasi, anggaran dan pengawasaan terhadap pihak ekskutif, olehnya itu dirinya memantapkan diri untuk maju.

Apalagi di era modern ini, ia berharap kepada pemuda millenial untuk ikut bisa bekerjasama dalam hal gagas sesuatu yang kreatif.

“Tetapi lagi-lagi bagi saya DPR itu terminal, DPR itu hanya lima tahunan makanya bagi saya caleg ini sampingan saja. Pekerjaan utama saya ikut-ikut menggarap film. Tanpa harus disitupun kita masih bisa bekerjasama. Saya berharap nanti kita bisa bekerjasama untuk membuat gagasan-gagasan kreatif,” katanya.

Arsyad Idrus yang menjadi pembicara terakhir mengatakan jika masyarakat sadar betul dengan fungsi DPR RI, hanya ada tiga yakni, legislasi, anggaran dan fungsi pengawasan, maka sebelum terpilih menjadi anggota DPR RI maka kualitas demokrasi akan meningkat signifikan.
Olehnya itu dirinya menyatakan rakyat mempunyai hak penuh untuk menentukan pilihannya siapa caleg yang akan dipilihnya, tanpa ada tendensi dari siapaun.

“Karena pemilih kita sebelumnya masih termobilisir, kadang oke siap memilih ada amplop. Kalau ini bisa diselesaikan, saya kira satu persoalan di Sulbar selesai. Bagi saya seorang caleg yang lolos ke Senayan, menurut saya standing berfikirnya memang harus nasional. karena semua produk yang dihasilkan disana bukan ditujukan kepada satu provinsi. tapi untuk seuruh wilayah di Indonesia, undang-undang untuk nasioanl, mentapkan dan menambah anggaran untuk nasioal,” katanya.

Ia juga menjelaskan, anggota DPR RI hanya tiga bulan sekali melakukan reses, dan hanya sembilan hari di dapilnya. Sisahnya, kunjungan spesifik, kunjungan kerja, di daerah lain, diluar dapil. “Betul DPR akan berpihak kepada Dapilnya tapi standing berfikirnya harus nasional, harus nemahami persoalan nasional,” tutup Arsyad.

(Zulkifli)

banner 900x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan Balasan