banner 728x90

8.000 Ton Cangkang Sawit Sulbar di Ekspor ke Thailand

banner 728x90

Pelepasan ekspor cangkang sawit ditandai dengan pelepasan burung merpati. (Dok. Zulkifli)

Mamuju, Katinting.com – Kementerian Pertanian melalui Pemerintah Provinsi Sulawessi Barat (Sulbar) dan Karantia Pertanian melakukan pelepasan ekspor komoditas pertanian di Pelabuhan Belang-belang, Mamuju, Senin (27/7).

Mereka melepas melepas ekspor cangkang sawit sebanyak 8.000 ton atau nilainya sekira Rp. 8,9 Miliar dari CV.Anugrah Abadi.

Perwakilan Menteri Pertanian, Ali Jamil yang juga Kepala Badan Karantina Pertanian menuturkan, cangkang sawit sebelumnya hanya menjadi samapah atau limbah bahkan dijadikan sebagai penimbun jalan perkebunan.

Namun karena manfaatnya cukup besar yang dapat dijadikan sebagai bahan bakar atau sumber energi terbarukan, menjadi pengganti batu bara atau pencampur batu bara, sehingga saat ini cangkang sawit mempunyai harga jual. Bahkan kadang melebihi harga tandan buah segar (TBS) perkilonya.

“Sekarang harganya cukup besar. Hari ini, menurut catatan yang ada di karantina harganya lumayan paling tidak harganya sekitar Rp. 890,- perkilo. Kadang-kadang harganya bisa lebih tinggi dari harga TBS sawit yang baru dipanen TBS nya itu bisa lebih rendah harganya dibanding cangkangnya,” kata Ali Jamil.

Kata dia, Program Gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratiks) selama lima tahun yang dicangkan oleg Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo diharapkan ada peningkatan 300 persen.

menurutnya, indikator peningkatan tersebut mulai terlihat di Sulbar yakni meningkatnya jumlah eksportir walaupun CV. Anugreah Abadi sebagai mitra usaha yang baru pertama kali hadir Sulbar.

“Terus kemudian negera tujuan ini menjadi indikator kedua. Ternyata ia betul, negera Thailand tujuannya, sebelumnya ada disini yang main perusahaan lain tapi tujuannya jepang. Itu berarti negera terbuka ada potensi, negara tujuan terbuka, terus kemudian komoditasnya cangkang kepala sawit,” sebutnya.

Dia menambahkan, CV. Anugerah Abadi menargetkan akan melakukan aktivitas ekspor komiditas pertanian Sulbar sebanak dua kali dalam sebulan. Namun dirinya meminta jika hal tersebut harus ditingkatkan sebanyak enam kali sebulan dan bukan hanya komuditas cangkang sawit saja tetapi komuditas pertanian lainnya.

“Sulbar punya komoditas Kopi, Kakao, Pisang, durian dan Manggis termasuk kedelai. Saya lihat potensi Sulbar besar jadi harapan kita gratiks yang dicanangkan Menteri Pertanian bisa kita capai,” ungkapnya.

Dia juga meminta ke mitra usaha untuk agar seluruh komuditas-komuditas pertanian di Sulbar yang bakal di ekspor ke negera luar, tidak lagi diberangkatkan di Balikpapan.

“Harus (diberangkatkan) disini (Pelabuhan Belang-belang). Supaya masyrakat kita di Sulbar ini sejahtera dan malaqbi,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar mengungkapkan dengan adanya ekspor cangkang sawit perekonomian Sulbar diharap akan terus tumbuh.

“Kekayaan alam kita ini harus tetap kita jaga, tentunya penuh kerja keras dengan semua kerjasama dengan baik,” ucap Gubernur.

Kata dia, pihaknya akan terus berupaya berkoordinasi agar Sulbar memiliki bea cukai sendiri, sehingga bisa menambah penghasilan daerah.

“Ini kita punya target biar penghasilan daerah bertambah demi pembangunan Sulbar. Semoga Sulbar memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” ungkapnya.

Kepala UPT Pelabuhan Belang-belang Kapten Kristina Anthon mengatakan pelabuhan sudah tiga kali menfasilitasi ekspor cangkang sawit ke luar negeri.

“Dua kali ekspor ke Cina dan ini ketiga ke Thailand. Semoga ini bisa terus bertambah ekspor yang menjadi prioritas pemerintah, apalagi pada masa pandemi Covid-19 kita tetap melakukan pelayanan prima selama 24 jam,” tutup Kristina.

(Zulkifli)

Bagikan
banner 728x90
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "8.000 Ton Cangkang Sawit Sulbar di Ekspor ke Thailand"